PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • es26 hlm. 31-43
  • Maret

Tidak ada video untuk bagian ini.

Maaf, terjadi error saat ingin menampilkan video.

  • Maret
  • Menyelidiki Kitab Suci Setiap Hari—2026
  • Subjudul
  • Minggu, 1 Maret
  • Senin, 2 Maret
  • Selasa, 3 Maret
  • Rabu, 4 Maret
  • Kamis, 5 Maret
  • Jumat, 6 Maret
  • Sabtu, 7 Maret
  • Minggu, 8 Maret
  • Senin, 9 Maret
  • Selasa, 10 Maret
  • Rabu, 11 Maret
  • Kamis, 12 Maret
  • Jumat, 13 Maret
  • Sabtu, 14 Maret
  • Minggu, 15 Maret
  • Senin, 16 Maret
  • Selasa, 17 Maret
  • Rabu, 18 Maret
  • Kamis, 19 Maret
  • Jumat, 20 Maret
  • Sabtu, 21 Maret
  • Minggu, 22 Maret
  • Senin, 23 Maret
  • Selasa, 24 Maret
  • Rabu, 25 Maret
  • Kamis, 26 Maret
  • Jumat, 27 Maret
  • Sabtu, 28 Maret
  • Minggu, 29 Maret
  • Senin, 30 Maret
  • Selasa, 31 Maret
Menyelidiki Kitab Suci Setiap Hari—2026
es26 hlm. 31-43

Maret

Minggu, 1 Maret

Kalau seseorang sudah mati, dia sudah dibebaskan dari dosanya.—Rm. 6:7.

Alkitab menceritakan tentang orang-orang benar yang belakangan menjadi tidak benar. Contohnya, Raja Salomo. Dia mengenal baik Yehuwa dan tahu bagaimana dia harus menyembah-Nya. Yehuwa pun memberi dia banyak berkat. Tapi, belakangan dia menyembah allah-allah palsu. Itu membuat Yehuwa sangat marah, dan bangsa Israel harus menanggung akibatnya selama berabad-abad. Meski begitu, dulu kita berpikir Salomo akan dibangkitkan. Mengapa? Karena Alkitab mengatakan bahwa sewaktu dia meninggal, dia ”dibaringkan bersama leluhurnya”, sama seperti Raja Daud dan orang-orang setia lainnya. (1 Raj. 11:​5-9, 43, catatan kaki; 2 Raj. 23:13) Tapi, apakah cara Salomo dikubur menunjukkan bahwa dia pasti akan dibangkitkan? Alkitab tidak memberi tahu kita. Kebangkitan adalah pemberian dari Allah yang pengasih. Seseorang bisa menerima pemberian itu hanya kalau Yehuwa ingin memberinya kesempatan untuk melayani Dia selamanya. (Ayb. 14:​13, 14; Yoh. 6:44) Jadi, apakah Salomo akan dibangkitkan? Kita tidak tahu. Hanya Yehuwa yang tahu jawabannya. Tapi, kita tahu bahwa Yehuwa pasti akan melakukan apa yang benar. w24.05 3 ¶9

Senin, 2 Maret

Aku akan menjadi tamu di kemah-Mu selamanya.—Mz. 61:4.

Sewaktu kita membaktikan diri kepada Yehuwa, kita seolah-olah menjadi tamu di kemah-Nya. Kita menikmati makanan rohani yang berlimpah dan bersahabat dengan tamu-tamu lainnya. Apakah kemah Yehuwa hanya ada di tempat tertentu? Tidak. Di mana pun Saudara berada, Saudara bisa menjadi tamu di kemah Yehuwa kalau Saudara melayani Dia dengan setia. (Why. 21:3) Bagaimana dengan orang-orang setia yang sudah meninggal? Apakah mereka masih menjadi tamu di kemah Yehuwa? Ya! Mengapa? Karena mereka masih hidup dalam ingatan Yehuwa. Yesus mengatakan, ”Mengenai kebangkitan orang mati, Musa sendiri memberitahukan tentang itu dalam kisah tentang semak berduri, sewaktu menyebut Yehuwa sebagai ’Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub’. Dia adalah Allah orang hidup, bukan Allah orang mati. Di mata-Nya, mereka semua hidup.”—Luk. 20:​37, 38. w24.06 3-4 ¶6-7

Selasa, 3 Maret

Yehuwa adalah kekuatanku dan perisaiku.—Mz. 28:7.

Zadok pergi ke Hebron dengan membawa senjatanya dan siap berperang. (1 Taw. 12:38) Dia mungkin tidak terlalu berpengalaman dalam berperang. Meski begitu, dia rela untuk bertempur bersama Daud dan melindungi Israel dari musuh. Itu pasti membutuhkan keberanian. Bagaimana seorang imam seperti Zadok bisa menjadi begitu berani? Dia pasti meniru teladan dari pria-pria yang kuat dan berani di sekitarnya. Misalnya, Daud dengan berani ”memimpin Israel berperang”. Itu membuat semua orang Israel tergerak untuk mendukung dia dengan sepenuh hati. (1 Taw. 11:​1, 2) Daud juga selalu mengandalkan bantuan Yehuwa sewaktu melawan musuh. (Mz. 138:3) Selain Daud, ada pria-pria lain yang menjadi teladan bagi Zadok, misalnya Yehoyada; Benaya anak Yehoyada, yang adalah seorang prajurit; dan 22 pemimpin Israel lainnya yang mendukung Daud.—1 Taw. 11:​22-25; 12:​26-28. w24.07 3 ¶5-6

Rabu, 4 Maret

Allah dengan baik hati sedang membantu kalian untuk bertobat.—Rm. 2:4.

Saul dari Tarsus dengan kejam menganiaya para pengikut Kristus. Kebanyakan orang Kristen di zaman itu mungkin merasa bahwa Saul tidak akan pernah bertobat. Tapi, pandangan Yesus yang sudah dibangkitkan jauh berbeda dengan pandangan manusia yang tidak sempurna. Dia dan Bapaknya melihat sifat-sifat baik dalam diri Saul. Yesus berkata, ”Aku sudah memilih dia.” (Kis. 9:15) Yesus bahkan melakukan mukjizat untuk membantu Saul bertobat. (Kis. 7:58–8:3; 9:​1-9, 17-20) Setelah menjadi orang Kristen, Saul, yang belakangan dikenal sebagai Rasul Paulus, sering mengungkapkan rasa syukurnya atas kebaikan hati dan belas kasihan yang dia terima. (1 Tim. 1:​12-15) Sewaktu Paulus mendengar tentang kasus perbuatan cabul yang dibiarkan di sidang Kristen di Korintus, apa yang dia lakukan? Dari cara dia menangani kasus itu, kita bisa belajar banyak tentang disiplin Yehuwa yang pengasih dan tentang pentingnya berbelaskasihan. w24.08 13 ¶15-16

Kamis, 5 Maret

Putra Allah datang untuk menghancurkan semua hasil pekerjaan Iblis.—1 Yoh. 3:8.

Selama ratusan tahun, Yehuwa secara bertahap menunjukkan dengan lebih jelas bagaimana manusia yang berdosa bisa mendekat kepada-Nya. Anak kedua Adam dan Hawa, yaitu Habel, adalah manusia pertama yang beriman kepada Yehuwa setelah pemberontakan di Eden. Habel menyayangi Yehuwa. Dia ingin menyenangkan Yehuwa dan mendekat kepada-Nya. Karena Habel adalah seorang gembala, dia mempersembahkan beberapa dombanya yang masih muda sebagai korban untuk Yehuwa. Apa tanggapan Yehuwa? Dia ”senang dengan Habel dan persembahannya”. (Kej. 4:4) Belakangan, Yehuwa juga senang dengan korban yang dipersembahkan oleh Nuh dan orang-orang beriman lainnya yang menyayangi Dia. (Kej. 8:​20, 21) Dengan menerima korban-korban itu, Yehuwa menunjukkan bahwa manusia yang berdosa bisa menyenangkan Dia dan mendekat kepada-Nya. w24.08 3 ¶5-6

Jumat, 6 Maret

Aku hampir menyimpang dari jalan yang benar; kakiku nyaris terpeleset.—Mz. 73:2.

Sewaktu menghadapi ketidakadilan, kita mungkin merasa sangat sakit hati dan sedih. (Pkh. 7:7) Hamba-hamba Allah yang setia, seperti Ayub dan Habakuk, juga merasakan hal yang sama. (Ayb. 6:​2, 3; Hab. 1:​1-3) Memang, wajar kalau kita merasa seperti itu. Tapi, kita perlu mengendalikan reaksi kita agar kita tidak melakukan sesuatu yang salah dan memperburuk keadaan. Sewaktu orang yang memperlakukan kita dengan buruk kelihatannya tidak mendapat konsekuensi apa pun, kita mungkin mulai merasa bahwa melakukan apa yang benar itu tidak ada gunanya. Seorang penulis mazmur pernah memperhatikan bahwa orang jahat yang memperlakukan orang lain dengan buruk malah kelihatannya hidup sejahtera. Dia mengatakan, ”Orang jahat . . . hidupnya tidak pernah susah.” (Mz. 73:12) Dia juga merasa kecewa saat melihat ketidakadilan di mana-mana, dan dia mengatakan, ”Saat aku mencoba memahaminya, aku menjadi stres.”—Mz. 73:​14, 16. w24.11 3 ¶5-7

Sabtu, 7 Maret

Keluarga bangsa-bangsa, pujilah Yehuwa, pujilah Yehuwa karena kemuliaan dan kekuatan-Nya.—Mz. 96:7.

Kita memuliakan Yehuwa karena kita sangat menghormati Dia. Apa saja alasannya kita menghormati Yehuwa? Dia mahakuasa, dan kekuatan-Nya tidak terbatas. (Mz. 96:​4-7) Dia sangat berhikmat, dan itu terlihat jelas dari ciptaan-Nya. Dialah yang memberi kita kehidupan dan semua yang kita butuhkan untuk tetap hidup. (Why. 4:11) Dia juga setia. (Why. 15:4) Semua yang Dia lakukan berhasil, dan Dia selalu menepati janji. (Yos. 23:14) Karena itu, Nabi Yeremia berkata tentang Yehuwa, ”Di antara semua orang bijaksana dari bangsa-bangsa dan di seluruh kerajaan mereka, tidak ada yang seperti Engkau.” (Yer. 10:​6, 7) Jelaslah, kita punya banyak alasan untuk menghormati Bapak kita yang di surga. Tapi selain menghormati Yehuwa, kita juga menyayangi Dia. Dan, itulah alasan utama kita memuliakan Dia. w25.01 3 ¶5-6

Minggu, 8 Maret

Singkirkan orang yang berbuat buruk itu dari antara kalian.—1 Kor. 5:13.

Para penentang berupaya membuat hal-hal baik yang dilakukan organisasi Allah terlihat buruk. Misalnya, Alkitab mengatakan bahwa Yehuwa ingin umat-Nya bersih secara jasmani, rohani, dan moral. Dia menetapkan bahwa siapa pun yang terus berbuat buruk dan tidak bertobat harus disingkirkan dari sidang. (1 Kor. 5:​11, 12; 6:​9, 10) Kita menaati perintah yang berdasarkan Alkitab itu. Tapi, para penentang malah menuduh kita tidak toleran, suka menghakimi, dan tidak pengasih. Kita perlu mengenali sumber tuduhan itu. Kebohongan tentang organisasi Yehuwa berasal dari Setan si Iblis. Dia adalah ”bapak para pendusta”. (Yoh. 8:44; Kej. 3:​1-5) Jadi, kita tidak heran kalau Setan menggunakan para pendukungnya untuk menyebarkan kebohongan tentang organisasi Yehuwa. w24.04 10 ¶13-14

Senin, 9 Maret

Itu pasti menjadi kenyataan.—Yeh. 33:33.

Bahkan setelah kesengsaraan besar dimulai, beberapa orang yang melihat kehancuran ”Babilon Besar” mungkin akan ingat bahwa Saksi-Saksi Yehuwa sudah lama mengatakan bahwa itu akan terjadi. Apakah mereka akan menjadi beriman dan bergabung dengan kita? (Why. 17:5) Ingatlah, hal seperti itu pernah terjadi di Mesir pada zaman Musa. Waktu itu, ada ”orang-orang dari berbagai bangsa” yang ikut keluar dari Mesir bersama orang Israel. Beberapa dari mereka mungkin mulai beriman setelah melihat peringatan Musa tentang Sepuluh Bencana menjadi kenyataan. (Kel. 12:38) Nanti, setelah Babilon Besar dihancurkan, apakah kita akan kecewa kalau ternyata ada orang-orang yang masih bisa bergabung dengan kita tidak lama sebelum Armagedon? Pasti tidak. Kita mau meniru Bapak kita yang di surga, ”Allah yang berbelaskasihan dan iba hati, tidak cepat marah dan berlimpah dengan kasih setia dan kebenaran”.—Kel. 34:6. w24.05 11 ¶12-13

Selasa, 10 Maret

Teruslah berpegang pada patokan ajaran yang benar.—2 Tim. 1:13.

Apa yang bisa terjadi kalau kita tidak lagi berpegang pada ”patokan ajaran yang benar”? Perhatikan sebuah contoh. Di abad pertama, beberapa orang Kristen percaya bahwa hari Yehuwa sudah tiba, dan mereka menyebarkan hal itu. Mungkin, ada sebuah surat yang menjelaskan hal tersebut, yang mereka pikir ditulis oleh Rasul Paulus. Tanpa memeriksa faktanya, beberapa orang Kristen di Tesalonika memercayai hal itu dan bahkan menyebarkannya. Kalau saja mereka mengingat apa yang Paulus ajarkan sewaktu dia masih bersama mereka, mereka pasti tidak akan tertipu. (2 Tes. 2:​1-5) Jadi, Paulus menasihati saudara-saudarinya untuk tidak langsung percaya dengan semua yang mereka dengar. Dan, supaya mereka tidak tertipu lagi, Paulus mengakhiri surat keduanya kepada orang-orang di Tesalonika dengan kata-kata: ”Inilah salam saya, Paulus, yang saya tulis sendiri. Ini tanda dalam setiap surat saya yang menunjukkan bahwa surat ini dari saya.”—2 Tes. 3:17. w24.07 12 ¶13-14

Rabu, 11 Maret

Kalian perlu bertekun.—Ibr. 10:36.

Orang Kristen Ibrani perlu bertekun dalam melayani Yehuwa karena kondisi di Yudea akan semakin buruk. Memang, banyak dari mereka menjadi orang Kristen pada masa yang cukup damai. Tapi, ada juga yang pernah dianiaya dengan parah. Meski begitu, Rasul Paulus mengatakan bahwa mereka belum pernah dianiaya seperti Yesus, yaitu sampai mati. (Ibr. 12:4) Selain itu, karena orang Kristen semakin banyak, tentangan dari orang Yahudi menjadi semakin parah. Misalnya, hanya beberapa tahun sebelum Paulus menulis suratnya, lebih dari 40 orang Yahudi ”bersumpah bahwa mereka tidak akan makan atau minum sampai mereka membunuh Paulus”. (Kis. 22:22; 23:​12-14) Dan di tengah situasi seperti itu, orang Kristen juga harus tetap beribadah bersama, memberitakan kabar baik, dan menjaga iman mereka tetap kuat. w24.09 11 ¶15

Kamis, 12 Maret

[Yesus] berkata kepada ibunya, ”Ibu, dia anak Ibu!”—Yoh. 19:26.

Yohanes adalah rasul yang disayangi Yesus Kristus. (Mat. 10:2) Dia menemani Yesus selama pelayanannya, menyaksikan berbagai mukjizatnya, dan tetap setia kepadanya selama masa yang sulit. Sewaktu Yesus dihukum mati, Yohanes berada di sana. Dan setelah Yesus dibangkitkan, Yohanes bertemu dengannya. Dia juga menyaksikan perkembangan sidang Kristen di abad pertama, yang berawal dari sekelompok kecil orang Kristen sampai akhirnya kabar baik ”diberitakan di antara semua ciptaan di bawah langit”. (Kol. 1:23) Di usia yang sangat lanjut, Yohanes mendapat kehormatan untuk menulis beberapa buku dalam Firman Allah. Dia menulis buku Wahyu yang menakjubkan, ”yang disingkapkan Yesus Kristus”. (Why. 1:1) Dia juga menulis Injil Yohanes dan tiga surat lainnya dalam Alkitab. Suratnya yang ketiga ditujukan kepada Gayus, rekan seimannya yang setia. Yohanes menyayangi dia dan menganggap dia sebagai anak rohaninya. (3 Yoh. 1) Tulisan Yohanes sudah menguatkan banyak pengikut Yesus sampai ke zaman kita. w24.11 12 ¶15-16

Jumat, 13 Maret

Kalian para suami, . . . berikan perhatian kepada [istri kalian].—1 Ptr. 3:7.

Suami yang menyayangi istrinya sangat menghargai dia dan memandangnya sebagai hadiah yang tidak ternilai dari Yehuwa. (Ams. 18:22; 31:10) Karena itu, suami akan memperlakukan istrinya dengan baik hati dan penuh respek, bahkan dalam hal hubungan seks. Dia tidak akan memaksa istrinya melakukan perbuatan seksual yang membuat istrinya merasa tidak nyaman, direndahkan, atau terganggu hati nuraninya. Dia sendiri juga akan berupaya untuk menjaga hati nuraninya tetap bersih di hadapan Yehuwa. (Kis. 24:16) Para suami, yakinlah bahwa Yehuwa melihat dan menghargai upaya kalian untuk menghormati istri kalian dengan kata-kata dan tindakan. Bertekadlah untuk memperlakukan istri kalian dengan baik hati, penuh respek, dan pengasih serta menghindari tingkah laku yang merendahkan dia. Kalau kalian melakukannya, kalian menunjukkan bahwa kalian menyayangi dan menghargai dia. Dengan menghormati istri kalian, kalian akan melindungi hubungan kalian yang paling penting, yaitu persahabatan kalian dengan Yehuwa.—Mz. 25:14. w25.01 13 ¶17-18

Sabtu, 14 Maret

[Dia] menyerahkan dirinya bagi kita untuk membebaskan kita . . . dan memurnikan kita agar menjadi umat-Nya yang istimewa, yang bersemangat melakukan apa yang baik.—Tit. 2:14.

Salah satu hal yang membedakan hamba Yehuwa dengan orang yang mengaku Kristen adalah semangat mereka untuk memberitakan kabar baik. Bagaimana kita bisa tetap bersemangat atau bahkan lebih bersemangat untuk mengabar? Dengan mempelajari teladan Yesus. Selama pelayanannya di bumi, dia terus mengabar dengan bersemangat, dan semakin hari dia semakin rajin melakukannya. Dalam sebuah perumpamaan, Yesus bercerita tentang seorang tukang kebun yang bekerja keras selama tiga tahun untuk mengurus sebuah pohon ara, tapi pohon itu tidak berbuah. Meski begitu, dia tidak menyerah. Begitu juga, Yesus sudah mengabar kepada orang Yahudi selama sekitar tiga tahun, tapi kebanyakan dari mereka tidak mau mendengarkan. Meski begitu, Yesus tidak menyerah atau kehilangan semangatnya. (Luk. 13:​6-9) Kalau kita mempelajari apa yang dia ajarkan dan meniru apa yang dia lakukan, kita juga bisa tetap bersemangat mengabar. w25.03 14-15 ¶1-4

Minggu, 15 Maret

Orang cerdik bertindak dengan pengetahuan.—Ams. 13:16.

Bagaimana kalau ada seseorang yang kelihatannya cocok untuk menjadi teman hidup kalian? Apakah kalian akan langsung menyatakan perasaan kalian kepadanya? Alkitab mengatakan bahwa orang yang cerdik akan mencari tahu lebih banyak sebelum bertindak. Jadi, sebelum kalian menyatakan perasaan kalian, langkah yang bijaksana adalah mengamati dia dari jauh. Bagaimana kalian bisa mengamati seseorang dari jauh? Di perhimpunan atau di acara ramah tamah, kalian bisa mengamati kerohaniannya, sifat-sifatnya, dan tingkah lakunya. Siapa teman-temannya, dan apa saja yang dia bicarakan? (Luk. 6:45) Apakah cita-citanya sejalan dengan kalian? Kalian bisa berbicara dengan para penatua di sidangnya atau orang Kristen matang lainnya yang mengenal dia dengan baik. (Ams. 20:18) Kalian bisa menanyakan reputasi dan sifat-sifatnya. (Rut 2:11) Tapi, sewaktu kalian mengamati dia, jangan sampai dia merasa tidak nyaman. Hargai perasaannya, dan jangan selalu berada di sekitar dia atau berupaya mencari tahu segala sesuatu tentang dia sampai-sampai dia merasa risi. w24.05 22 ¶7-8

Senin, 16 Maret

Akhirnya aku mengakui dosaku kepada-Mu.—Mz. 32:5.

Para penatua tidak akan terburu-buru menyimpulkan bahwa orang yang berbuat dosa itu tidak akan bertobat. Memang, ada yang mungkin bertobat pada pertemuan pertama dengan panitia yang menangani kasusnya. Tapi, yang lainnya mungkin butuh lebih banyak waktu. Jadi, para penatua bisa mengatur untuk bertemu dengan orang itu lebih dari satu kali. Mungkin setelah pertemuan pertama, orang tersebut mulai memikirkan dengan serius apa yang disampaikan para penatua. Dia juga mungkin berdoa kepada Yehuwa dengan rendah hati. (Mz. 38:18) Lalu, di pertemuan berikutnya, dia mungkin sudah punya sikap yang berbeda. Karena ingin membantu orang yang berbuat dosa itu bertobat, para penatua bersikap seperasaan dan berbaik hati kepadanya. Mereka berharap dan berdoa agar Yehuwa memberkati upaya mereka dan agar orang Kristen yang menyimpang itu menjadi sadar dan bertobat.—2 Tim. 2:​25, 26. w24.08 22-23 ¶12-13

Selasa, 17 Maret

”Aku tidak senang dengan kematian siapa pun,” kata Tuan Yang Mahatinggi Yehuwa. ”Maka berbaliklah dan tetaplah hidup.”—Yeh. 18:32.

Yehuwa tidak ingin seorang pun dimusnahkan. Dia ingin orang yang berbuat dosa memperbaiki hubungan mereka dengan-Nya. (2 Kor. 5:20) Karena itu, sepanjang sejarah, Yehuwa terus berupaya membantu umat-Nya yang menyimpang, baik secara kelompok maupun perorangan, untuk bertobat dan kembali kepada-Nya. Para penatua mendapat kehormatan untuk menjadi rekan sekerja Yehuwa dengan membantu orang-orang yang berbuat dosa untuk bertobat. (Rm. 2:4; 1 Kor. 3:9) Bayangkan sukacita yang ada di surga sewaktu orang-orang yang berdosa bertobat! Bapak kita yang di surga, Yehuwa, merasakan sendiri sukacita itu setiap kali salah satu domba-Nya yang hilang akhirnya kembali ke sidang. Kita pasti semakin mengasihi Yehuwa sewaktu kita merenungkan belas kasihan-Nya dan kebaikan hati-Nya yang luar biasa.—Luk. 1:78. w24.08 31 ¶16-17

Rabu, 18 Maret

Yesus, karena tahu bahwa mereka akan memaksa untuk menjadikan dia raja, pergi lagi ke gunung sendirian.—Yoh. 6:15.

Kalau Yesus mau dijadikan raja, dia akan terlibat urusan politik orang Yahudi, yang saat itu dikuasai pemerintah Romawi. Tapi, Yesus langsung pergi ke gunung. Meskipun mendapat tekanan, dia tidak mau terlibat urusan politik. Benar-benar teladan yang bagus untuk kita! Kita memang tidak akan diminta untuk secara mukjizat menyediakan roti atau menyembuhkan orang sakit. Kita juga tidak akan dijadikan raja atau presiden. Meski begitu, orang-orang mungkin menekan kita untuk ikut dalam urusan politik, seperti mengikuti pemungutan suara atau menyatakan dukungan untuk orang yang kelihatannya bisa menjadi pemimpin yang baik. Tapi, teladan Yesus sangat jelas. Dia tidak mau ikut campur urusan politik. Belakangan, dia berkata, ”Kerajaan saya bukan bagian dari dunia ini.” (Yoh. 17:14; 18:36) Sebagai orang Kristen, kita perlu meniru cara berpikir dan tindakan Yesus. Kita mendukung, mendoakan, dan bersaksi tentang Kerajaan itu.—Mat. 6:10. w24.12 4 ¶5-6

Kamis, 19 Maret

Siapa pun yang menerima perintah-perintahku dan menjalankannya adalah orang yang mengasihi aku. Orang yang mengasihi aku akan dikasihi Bapakku, dan aku juga akan mengasihi dia serta memperlihatkan diriku dengan jelas kepadanya.—Yoh. 14:21.

Sewaktu belajar, pikirkan penerapannya. Misalnya, tirulah keadilan Yehuwa dengan bersikap tidak pilih kasih. Tirulah kasih Yesus kepada Bapaknya dan orang lain dengan rela berkorban demi nama Yehuwa dan demi rekan seiman Saudara. Dan, tirulah Yesus dengan memberikan kesaksian supaya orang-orang juga punya kesempatan untuk beriman pada korban tebusan, hadiah yang berharga dari Yehuwa. Kalau kita belajar lebih banyak tentang tebusan dan semakin menghargainya, kita akan semakin menyayangi Yehuwa dan Putra-Nya. Mereka pun akan semakin menyayangi kita. (Yak. 4:8) Jadi, manfaatkan semua persediaan Yehuwa untuk terus belajar tentang tebusan. w25.01 25 ¶16-17

Jumat, 20 Maret

Engkau telah melemparkan semua dosaku ke belakang-Mu.—Yes. 38:17.

Ayat hari ini bisa diterjemahkan menjadi: ”Engkau telah menyingkirkan semua dosaku dari pandangan-Mu.” Jadi sewaktu seseorang bertobat, Yehuwa seperti membuang dosanya sehingga itu tidak terlihat lagi. Kata-kata itu juga bisa diterjemahkan menjadi: ”Engkau telah membuat dosaku seolah-olah tidak pernah terjadi.” Untuk menandaskan hal ini, Alkitab memberikan gambaran lain yang dicatat di Mikha 7:​18, 19. Yehuwa seolah-olah melemparkan dosa kita ke laut yang dalam. Di zaman dulu, benda yang sudah dilempar ke laut yang dalam tidak mungkin bisa ditemukan lagi. Jadi, sewaktu Yehuwa mengampuni kita, Dia menyingkirkan dosa kita sehingga kita tidak perlu lagi merasa terbebani. Daud berkata, ”Bahagialah orang yang kesalahannya diampuni dan dosanya dimaafkan.” (Rm. 4:7) Pengampunan Yehuwa sungguh luar biasa! w25.02 9 ¶7-8

Sabtu, 21 Maret

Bergembiralah dan bersukacitalah selamanya atas apa yang Kuciptakan.—Yes. 65:18.

Sekarang, ada sebuah firdaus di bumi, yang penuh dengan orang-orang yang melakukan banyak hal baik. Di sana, jutaan orang menikmati kedamaian sejati, yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Mereka bertekad untuk tidak pernah keluar dari situ, dan mereka ingin sebanyak mungkin orang bergabung dengan mereka. Firdaus apa yang dimaksud? Firdaus rohani! Setan sudah membuat dunia ini menjadi tempat yang penuh kebencian, kejahatan, dan bahaya. (1 Yoh. 5:19; Why. 12:12) Tapi, di tengah dunia yang seperti itu, Yehuwa menciptakan firdaus rohani yang penuh damai. Ini sungguh luar biasa! Allah kita yang pengasih melihat bahwa dunia ini membuat orang-orang menderita, jadi Dia menciptakan lingkungan yang aman supaya kita bisa bertumbuh secara rohani. Firman-Nya menggambarkan firdaus rohani sebagai tempat ”untuk berlindung” dan ”kebun yang disirami dengan baik”. (Yes. 4:6; 58:11) Karena berkat Yehuwa, orang-orang yang tinggal di firdaus rohani bisa merasa aman dan bahagia selama hari-hari terakhir yang sulit dihadapi ini.—Yes. 54:14; 2 Tim. 3:1. w24.04 20 ¶1-2

Minggu, 22 Maret

Sampaikan permintaan kalian kepada Allah.—Flp. 4:6.

Kalian pasti sudah berdoa agar bisa menemukan teman hidup, kalau itu yang kalian inginkan. Memang, Yehuwa tidak menjanjikan teman hidup kepada siapa pun. Tapi, Dia peduli dengan kebutuhan dan perasaan kalian, dan Dia bisa membantu kalian sewaktu kalian berupaya mencari teman hidup. Jadi, teruslah ceritakan perasaan dan keinginan kalian kepada-Nya. (Mz. 62:8) Berdoalah meminta hikmat dan kesabaran. (Yak. 1:5) Ingatlah, kalaupun kalian tidak langsung menemukan calon teman hidup, Yehuwa berjanji untuk terus memenuhi kebutuhan jasmani dan emosi kalian. (Mz. 55:22) Tapi hati-hati, jangan sampai upaya kalian untuk mencari pasangan menjadi hal yang terpenting bagi kalian. (Flp. 1:10) Ingatlah, tidak soal masih lajang atau sudah menikah, kalian bisa benar-benar bahagia kalau kalian punya hubungan yang baik dengan Yehuwa. (Mat. 5:3) Dan selama masih lajang, kalian mungkin punya kesempatan untuk berbuat lebih banyak dalam pelayanan. (1 Kor. 7:​32, 33) Gunakanlah kesempatan itu sebaik-baiknya. w24.05 21 ¶4; 22 ¶6

Senin, 23 Maret

Perhatikanlah kepentingan orang lain, bukan kepentingan diri sendiri saja.—Flp. 2:4.

Berapa lama kalian seharusnya berpacaran? Keputusan yang dibuat dengan terburu-buru sering kali berakibat buruk. (Ams. 21:5) Jadi, masa berpacaran perlu berlangsung selama beberapa waktu sampai kalian bisa mengenal pasangan kalian dengan baik. Tapi, kalian tidak perlu berpacaran lebih lama dari yang dibutuhkan. Alkitab berkata, ”Harapan yang tertunda membuat hati sakit.” (Ams. 13:12) Nah, bagaimana kita bisa membantu pasangan yang sedang berpacaran? Kita bisa mengundang mereka makan bersama, ikut ibadah keluarga kita, atau berekreasi bersama. (Rm. 12:13) Apakah mereka perlu ditemani, perlu transportasi, atau perlu tempat untuk berbicara berdua saja? Kalau ya, apakah kita bisa menawarkan bantuan? (Gal. 6:10) Kalau kita diminta untuk menemani pasangan yang berpacaran, itu adalah kesempatan yang bagus untuk membantu. Jangan tinggalkan mereka tanpa ada siapa pun di sekitar mereka. Tapi ingatlah, kadang mereka juga perlu berbicara berdua saja. w24.05 30 ¶13-14

Selasa, 24 Maret

Aku sudah memberi dia waktu untuk bertobat.—Why. 2:21.

Para penatua mencari tahu hal apa saja yang membuat seseorang akhirnya berbuat dosa. Misalnya, apakah orang itu pelan-pelan menjadi lemah secara rohani karena dia sudah tidak lagi melakukan pelajaran pribadi atau berdinas? Apakah dia sudah jarang berdoa kepada Yehuwa, atau doanya menjadi sekadar formalitas saja? Apakah dia sudah membiarkan dirinya dikendalikan oleh keinginan yang salah? Apakah dia memilih teman bergaul atau hiburan yang buruk? Bagaimana pilihan itu memengaruhi hatinya? Apakah dia sadar bahwa keputusan dan tindakannya sudah menyakiti hati Bapaknya, Yehuwa? Para penatua dengan baik hati mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bermakna tanpa menanyakan hal-hal pribadi yang tidak perlu mereka ketahui. Tujuannya untuk membantu dia memikirkan sikapnya selama ini yang membuat dia akhirnya melakukan dosa. (Ams. 20:5) Selain itu, mereka bisa menggunakan perumpamaan untuk membantu orang itu berpikir dan menyadari kesalahannya. Pada pertemuan pertama, orang itu mungkin mulai menyesali kesalahannya dan sikapnya selama ini. Bahkan, dia mungkin bertobat pada saat itu. w24.08 22 ¶9-11

Rabu, 25 Maret

Saya juga harus memberitakan kabar baik tentang Kerajaan Allah di kota-kota lain, karena untuk itulah saya diutus.—Luk. 4:43.

Yesus bersemangat memberitakan ”kabar baik tentang Kerajaan Allah” karena dia tahu bahwa Allah ingin dia melakukannya. Bagi Yesus, memberitakan kabar baik adalah hal yang terpenting. Bahkan beberapa bulan sebelum kematiannya, dia melakukan perjalanan ”dari kota ke kota dan desa ke desa” untuk mengajar orang-orang. (Luk. 13:22) Dia juga melatih lebih banyak murid untuk mengabar. (Luk. 10:1) Sekarang, Yehuwa dan Yesus juga ingin kita mengutamakan kegiatan pengabaran. (Mat. 24:14; 28:​19, 20) Kita bisa lebih bersemangat mengabar kalau kita peduli kepada orang-orang, sama seperti Yehuwa. Dia mau sebanyak mungkin orang menerima kabar baik dan diselamatkan. (1 Tim. 2:​3, 4) Karena itu, Dia melatih kita untuk lebih terampil mengabar. Kalaupun saat ini orang yang kita kabari tidak mau mendengarkan, mereka mungkin masih punya kesempatan untuk melayani Yehuwa sebelum kesengsaraan besar berakhir. w25.03 15-16 ¶5-7

Kamis, 26 Maret

Orang yang menyapa dia berarti mendukung kejahatannya.—2 Yoh. 11.

Setiap orang Kristen akan menggunakan hati nuraninya yang dilatih Alkitab sewaktu berurusan dengan seseorang yang dikeluarkan dari sidang. Ada yang mungkin tidak keberatan untuk menyapa atau menyambut orang itu di perhimpunan. Tapi, kita tidak akan mengobrol lama-lama atau bergaul dengan dia. Ada yang mungkin berpikir, ’Bukankah Alkitab mengatakan bahwa orang Kristen yang menyapa orang seperti itu berarti mendukung kejahatannya?’ (2 Yoh. 9-11) Coba perhatikan konteks ayat-ayat itu. Konteksnya menunjukkan bahwa petunjuk tersebut berlaku untuk orang yang murtad dan orang yang berupaya memengaruhi orang lain untuk berbuat dosa. (Why. 2:20) Orang seperti itu tidak akan dikunjungi oleh para penatua. Tentu saja, ada kemungkinan dia akan bertobat suatu hari nanti. Tapi sebelum itu terjadi, kita tidak akan menyapa dia atau mengundang dia berhimpun. w24.08 30-31 ¶14-15

Jumat, 27 Maret

Hal itu belum jelas di hati mereka.—Mrk. 6:52.

Setelah Yesus memberi makan sekumpulan orang, dia menyuruh para rasulnya kembali ke Kapernaum naik perahu. Tapi, dia pergi ke gunung untuk menghindari orang-orang yang mau menjadikan dia raja. (Yoh. 6:​16-20) Sewaktu para rasul sedang berlayar, terjadi sebuah badai dengan angin yang kencang dan ombak yang besar. Lalu, Yesus datang ke arah mereka dengan berjalan di atas air, dan dia mengajak Rasul Petrus melakukannya juga. (Mat. 14:​22-31) Setelah Yesus naik ke perahu, badai itu menjadi reda. Murid-muridnya pun berkata, ”Kamu memang benar-benar Putra Allah.” (Mat. 14:33) Meski begitu, mereka tidak mengerti kaitan antara mukjizat ini dengan mukjizat Yesus yang sebelumnya. Markus menulis, ”Mereka sangat takjub melihatnya, karena mereka belum mengerti arti mukjizat roti itu.” (Mrk. 6:​50-52) Mereka tidak mengerti seberapa besar kuasa yang Yehuwa berikan kepada Yesus untuk membuat mukjizat. w24.12 5 ¶7

Sabtu, 28 Maret

[Allah] ingin agar segala macam orang diselamatkan dan memiliki pengetahuan yang tepat tentang kebenaran.—1 Tim. 2:4.

Kita bisa menghargai tebusan dari Yehuwa dengan memanfaatkan minggu-minggu Peringatan untuk menunjukkan rasa syukur kita. Selain merencanakan untuk hadir di acara Peringatan, undanglah orang-orang lain juga. Jelaskan kepada mereka seperti apa acaranya. Saudara mungkin bisa menunjukkan video Kenapa Yesus Perlu Mati? dan Memperingati Kematian Yesus yang ada di jw.org. Selain itu, para penatua perlu mengundang orang-orang yang tidak aktif. Bayangkan sukacita yang ada di surga dan di bumi sewaktu domba Yehuwa yang hilang tergerak untuk kembali! (Luk. 15:​4-7) Nah di acara Peringatan, selain menyapa saudara-saudari, kita perlu berupaya menyapa orang yang baru pertama kali datang atau yang sudah lama tidak datang ke acara itu. Kita mau mereka semua merasa disambut!—Rm. 12:​13, catatan kaki. w25.01 29 ¶15

Minggu, 29 Maret

Allah mengutus Putra-Nya sebagai korban pendamaian bagi dosa kita . . . karena Dia mengasihi kita.—1 Yoh. 4:10.

Tebusan tidak hanya mengajar kita tentang keadilan Yehuwa, tapi juga tentang kasih-Nya yang dalam kepada kita. (Yoh. 3:16; 1 Yoh. 4:​9, 10) Tebusan menunjukkan bahwa Yehuwa ingin kita hidup selamanya dan menjadi bagian dari keluarga-Nya. Dulu, sewaktu Adam berdosa, dia tidak bisa lagi menjadi bagian dari keluarga Yehuwa. Akibatnya, sejak lahir, kita semua juga bukan bagian dari keluarga Yehuwa. Tapi atas dasar tebusan, semua orang yang beriman dan taat bisa diampuni oleh Yehuwa dan akhirnya menjadi bagian dari keluarga-Nya. Bahkan, sekarang pun kita bisa punya hubungan yang akrab dengan Yehuwa dan rekan seiman kita. Yehuwa memang benar-benar menyayangi kita!—Rm. 5:​10, 11. w25.01 21 ¶6

Pembacaan Alkitab untuk Peringatan: (Peristiwa setelah matahari terbit: 9 Nisan) Yohanes 12:​12-19; Markus 11:​1-11

Senin, 30 Maret

Inilah cara Allah menunjukkan kasih-Nya.—1 Yoh. 4:9.

Saudara pasti setuju bahwa tebusan adalah pemberian yang tidak ternilai! (2 Kor. 9:15) Karena Yesus mengorbankan nyawanya untuk Saudara, Saudara bisa bersahabat dengan Allah Yehuwa. Saudara juga bisa punya harapan untuk hidup selamanya. Ya, kita pasti sangat bersyukur atas tebusan. Itu adalah hadiah yang Yehuwa berikan karena Dia mengasihi kita. (Rm. 5:8) Supaya kita bisa tetap bersyukur dan menghargai tebusan, Yesus memerintahkan kita untuk memperingati kematiannya setiap tahun. (Luk. 22:​19, 20) Tahun ini, acara Peringatan akan diadakan pada hari Kamis, 2 April 2026. Kita semua pasti mau menghadirinya. Selama minggu-minggu sebelum dan setelah Peringatan, coba renungkan apa saja yang sudah Yehuwa dan Putra-Nya lakukan bagi kita. w25.01 20 ¶1-2

Pembacaan Alkitab untuk Peringatan: (Peristiwa setelah matahari terbit: 10 Nisan) Yohanes 12:​20-50

Selasa, 31 Maret

Pilihlah nasihatku, jangan perak, dan pilihlah pengetahuan, jangan emas murni.—Ams. 8:10.

Kita bisa belajar lebih banyak tentang kasih yang Allah Yehuwa dan Kristus Yesus tunjukkan kalau kita terus merenungkannya. Selama minggu-minggu Peringatan, Saudara bisa membaca salah satu atau beberapa buku Injil. Jangan membaca terlalu banyak sekaligus. Bacalah pelan-pelan, dan pikirkan hal apa lagi yang membuat kita semakin menyayangi Yehuwa dan Yesus. Nah, kalau Saudara sudah lama mengenal kebenaran, apakah masih ada yang bisa Saudara pelajari tentang keadilan Allah, kasih-Nya, tebusan, atau hal-hal lain yang sudah sering dibahas? Tentu saja. Selalu ada hal baru yang bisa kita pelajari. Di publikasi kita, ada banyak sekali informasi yang bisa kita dapatkan. Jadi, manfaatkan itu sepenuhnya. w25.01 24-25 ¶13-15

Pembacaan Alkitab untuk Peringatan: (Peristiwa setelah matahari terbit: 11 Nisan) Lukas 21:​1-36

    Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2026)
    Log Out
    Log In
    • Indonesia
    • Bagikan
    • Pengaturan
    • Copyright © 2026 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
    • Syarat Penggunaan
    • Kebijakan Privasi
    • Pengaturan Privasi
    • JW.ORG
    • Log In
    Bagikan