PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • g84_No10 hlm. 12-15
  • ”Anda Akan Mati Tanpa Darah!”

Tidak ada video untuk bagian ini.

Maaf, terjadi error saat ingin menampilkan video.

  • ”Anda Akan Mati Tanpa Darah!”
  • Sedarlah!—1984 (No. 10)
  • Subjudul
  • Pendirian Kami Diuji
  • ”Megan Hidup!”
  • Kemunduran
  • Kemunduran Lagi
  • Kabar Baik
Sedarlah!—1984 (No. 10)
g84_No10 hlm. 12-15

”Anda Akan Mati Tanpa Darah!”

SAYA berdiri dari tempat duduk untuk mempersiapkan makan siang. Tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang pecah dalam perut saya bagian kanan bawah. Saya merasakan sakit luar biasa, tetapi saya pikir itu hanya salah satu dari gejala-gejala pada waktu hamil tua.

Namun, rasa sakit itu makin hebat. Perut saya berdenyut-denyut, jalan menjadi sulit; ada sesuatu yang tidak beres dalam tubuh saya. Seorang wanita tetangga kami, di Arlington, Texas—seorang sahabat, yang terbaik selama keadaan yang buruk ini—dengan cepat membawa saya ke rumah sakit.

”Tidak!” saya berteriak, ketika dokter-dokter menyatakan bahwa saya mungkin hanya merasa sakit akan melahirkan. Karena telah melahirkan dua orang anak, saya tahu bagaimana rasa sakit bila akan melahirkan, dan ini bukan rasa sakit semacam itu. Maka mereka mulai mengadakan pemeriksaan.

Pada waktu suami saya, Mike, datang, saya sedang merasakan kesakitan yang luar biasa. Rintihan dan air mata keluar bukan hanya karena rasa sakit tetapi juga karena kelihatannya tidak seorang pun percaya bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam tubuh saya. Namun, Mike, setelah melihat saya, berbalik dan minta dengan sangat kepada kepala perawat untuk segera memanggil dokter—dokter apa saja. Ketika dokter yang sedang jaga datang, ia tidak seorang diri. Ia datang bersama seorang dokter ahli kandungan, dokter pribadi saya dan seorang dokter anak-anak.

Dokter ahli kandungan menaruh tangannya dengan hati-hati pada perut saya. Saya berteriak. Sentuhan yang ringan rasanya seperti pisau yang membelah perut saya. ”Ya Allah!” ia terperanjat. ”Sedikitnya ada satu liter darah dalam perutnya sekarang. Mungkin itu abruptio placenta [pemisahan placenta yang terlalu dini dari rahim]. Kita harus melakukan pembedahan cesar secepatnya.”

Tiba-tiba saya berpaling kepada suami saya dan otomatis berkata, ”Oh, Mike, jangan ada transfusi darah!”

Pendirian Kami Diuji

Berusaha setenang mungkin, Mike mengajak ketiga dokter itu ke samping dan dengan singkat menjelaskan pandangan kami sebagai Saksi-Saksi Yehuwa terhadap transfusi darah.

”Buku Kisah dalam Alkitab memerintahkan orang-orang Kristen untuk menjauhkan diri dari darah,” katanya. ”Itu berarti menghindari darah dalam bentuk apapun. Apapun yang terjadi istri saya tidak mau menerima darah.”—Kisah 15:20, 29.

Menurut para dokter jumlah susunan darah saya sangat rendah dan berbahaya. Pada waktu saya masuk rumah sakit angka hemoglobin saya 10 dan hematokrit 30. Mereka yakin bahwa angka itu lebih rendah sekarang. (Hemoglobin yang normal adalah 12 sampai 16; hematokrit, 34 sampai 50.)

Sekarang tibalah apa yang mula-mula mungkin merupakan permohonan yang tulus, tetapi bagi saya itu suatu taktik yang menakuti. ”Anda akan mati tanpa darah, tahukah anda akan hal itu?” tanya seorang dokter.

”Ya,” jawab saya. ”Tetapi saya tidak dapat melanggar hukum Allah dan hati nurani saya.”

Anehnya, dengan mudah saya dapat mengatakan: ”Ya, saya tahu saya dapat mati.” Semacam ketenangan meliputi diri saya karena saya tahu orang mati berada dalam kuburan dengan tenang dan bahwa kematian sama seperti tidur. Orang mati ”tidak tahu apa-apa,” saya mengetahuinya dari Alkitab.—Pengkhotbah 9:5, 10.

Hanya satu hal yang menyedihkan saya yaitu pikiran bahwa saya harus meninggalkan suami dan anak-anak saya. Saya merasa sangat kasihan pada Mike. ’Apa yang akan ia lakukan untuk memelihara (mungkin) tiga anak?’ pikir saya. ’Bagaimana putri-putri saya akan menanggapi kematian saya?’ Bagi saya, tidak menjadi soal. Saya akan bangun dalam rumah sakit ini atau dalam Orde Baru Allah melalui kebangkitan. Keluarga sayalah yang akan merasa sedih sekali.

Saya menandatangani surat pernyataan hukum yang membebaskan rumah sakit dan dokter-dokter dari tanggung jawab apapun karena mengoperasi tanpa darah, dan 15 menit kemudian saya dibawa ke kamar operasi di mana suatu pembedahan cesar dilakukan. Pukul 18.01 Megan dilahirkan, beratnya kira-kira dua setengah kilo. Ia ditaruh dalam ruang perawatan khusus untuk bayi-bayi.

Dokter keluar dari kamar operasi dan memberitahu Mike bahwa saya sedang berada dalam keadaan shock yang hebat. Mereka tidak tahu sumber dari pendarahan dan, jika hal itu tidak segera ditemukan, saya akan mati kehabisan darah di atas meja operasi.

”Maaf,” Mike mulai berkata. ”Kami telah memberitahu anda untuk tidak memberikan darah kepada Sherry meskipun ia akan mati. Saya tidak hanya akan melanggar apa yang saya percayai jika saya mengijinkan hal itu tetapi saya juga akan mengganggu hati nurani istri saya. Saya tidak dapat hidup dengan perasaan demikian. Ini bukan keputusan yang kami buat seketika. Kami sudah memutuskan lama sebelumnya berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab. Ada cairan lain yang dapat anda pakai, seperti blood-volume expanders (cairan untuk mengembangkan volume darah).”

Meskipun ia tidak setuju dengan pendirian kami, ia berjanji kepada suami saya bahwa ia akan melakukan apa saja sedapat mungkin untuk membantu, tanpa menggunakan darah.

Masa krisis dapat mengeruhkan pikiran yang jernih. Menunda-nunda membuat keputusan semacam itu sampai seseorang dihadapkan pada persoalan dengan mudah dapat membuat dia berkompromi di bawah tekanan dari dokter atau staf rumah sakit. Saya senang bahwa suami saya dan saya melihat pentingnya memutuskan jauh sebelumnya untuk tetap bersikap teguh dalam keadaan darurat sedemikian.

Dokter kembali ke kamar operasi dan menemukan sumber dari pendarahan saya—pecahnya pembuluh nadi dalam rahim. Rupanya pembuluh nadi tersebut menjadi lemah disebabkan dua kehamilan saya sebelumnya. Dua puluh jahitan diperlukan untuk memperbaikinya. Walaupun saya sudah kehilangan lebih dari separuh darah saya, cairan bukan darah, Ringer’s lactate, membantu menstabilkan volume cairan dalam tubuh.

”Problem yang terbesar sekarang adalah infeksi,” dokter memberitahu suami saya. Ia menjelaskan bahwa suatu infeksi akan membunuh saya karena kadar darah saya terlalu rendah untuk dapat memerangi penyakit. Sekali lagi, transfusi darah dianjurkan.

”Apakah anda dapat menjamin bahwa istri saya tidak akan mendapat infeksi hepatitis atau yang lain jika anda memberinya darah?” tanya Mike.

”Tidak,” jawab dokter itu.

Mike menyimpulkan bahwa kemungkinan mendapat infeksi akan lebih sedikit dengan tidak menerima darah. Dokter setuju untuk menghormati keputusan suami saya.

”Megan Hidup!”

Dua hari telah berlalu dan saya masih belum melihat bayi saya. Walaupun saya telah diberitahu bahwa putri saya hidup meskipun ia sakit parah, jauh dalam hati saya merasa bahwa ia mati. Ketika paman saya dari Houston datang membawa kamera Polaroid, Mike mendapat satu akal. ’Jika Sherry mempunyai bukti bahwa Megan hidup,’ pikirnya, ’ini akan membantunya untuk sembuh.’ Maka ia meminjam kamera paman saya dan meyakinkan perawat-perawat di kamar anak-anak agar dapat mengambil foto Megan. ”Ia benar-benar hidup!” Saya berseru, luar biasa senangnya melihat Megan yang kecil untuk pertama kalinya, meskipun hanya sebuah foto. Saya harus hidup, karena bukan saja keluarga saya yang lain membutuhkan saya tetapi juga si kecil ini.

Saya mendapat perawat-perawat dan dokter-dokter yang baik sekali. Kepala perawat dari ruang perawatan khusus untuk bayi melaporkan perkembangan Megan kepada saya dua kali sehari, tidak perduli betapa sepele hal itu kelihatannya.

Pada hari keempat saya merasa lebih baik. Jumlah susunan darah saya mulai stabil. Segala sesuatu kelihatan cerah untuk pertama kalinya sejak penderitaan ini mulai. Namun, Mike kelihatannya sangat letih. Dua hari dua malam ia tetap berada di samping saya. Sekarang ia dapat pulang dan beristirahat.

Pada hari yang kelima saya sudah cukup sehat sehingga semua selang yang dimasukkan pada hari yang kedua dapat dilepaskan. Betapa senangnya ketika saya diberitahu bahwa saya boleh pergi ke ruang perawatan khusus untuk bayi! Saya dapat menggendong dan menyusui Megan untuk pertama kalinya. Itu dia, telanjang dan begitu kecil. Kami akhirnya bersatu meskipun adanya rintangan-rintangan—benar-benar saat yang mengharukan! Saya begitu bahagia sehingga menangis, demikian juga perawat itu.

Kemunduran

Kemudian malam itu sewaktu Mike dan saya bercakap-cakap, saya merasa keadaan saya mulai memburuk. ’Oh tidak! Ini tidak mungkin terjadi,’ pikir saya. ’Mungkin jika saya pergi ke kamar mandi saya akan merasa lebih baik.’ Sebaliknya, saya mulai muntah-muntah dengan hebat. Mike membantu saya kembali ke tempat tidur dan memanggil perawat.

Perut saya membengkak lagi dengan darah. Seraya dokter memerintahkan untuk memasang kembali semua selang, dengan lembut Mike mengusap dahi saya dan dengan erat memegang tangan saya. Tiba-tiba semuanya sunyi. Semua keriangan kami lenyap. Mike tidak tahan dan menangis tersedu-sedu.

Karena mengalami kemunduran, saya merasa makin lebih bergantung pada Yehuwa untuk memberikan keluarga saya dan saya kekuatan agar dapat bertahan terus. Sering ayah saya dan mertua saya yang kekasih mengucapkan doa yang membesarkan hati di samping tempat tidur. Ini terbukti menguatkan kami lebih jauh. Begitu juga telepon, kartu-kartu ucapan cepat sembuh dan doa saudara-saudara dan saudari-saudari kami seiman.

Pada hari kesembilan semua selang dilepas lagi. Saya sangat gembira karena Mike akan datang dan saya ingin mengejutkannya. Maka saya berdandan dengan rapi dan duduk di tempat tidur. Betapa gembiranya ia melihat saya tanpa selang-selang itu! Bergandengan kami berjalan sepanjang lorong untuk melihat Megan, kali ini ke kamar bayi-bayi yang biasa di mana bayi-bayi sehat lainnya berada.

Kemunduran Lagi

Pada malam harinya rasa sakit yang mengerikan itu kembali. ’Saya benar-benar tidak ingin Mike tahu bahwa saya sakit lagi,’ saya berkata pada diri sendiri. ’Saya tahu apa yang harus saya lakukan. Saya akan menganjurkan dia untuk pulang lebih cepat dan tidur dengan nyenyak.’ Ia menyetujui saran saya. Segera setelah ia pergi saya mulai muntah-muntah.

Saya menarik tali darurat. Para perawat datang berlarian. Saya dibantu naik ke tempat tidur dan para dokter dipanggil.

Dokter memasuki kamar saya, membungkuk dan berkata,”Sherry, saya harap anda tidak akan marah. Saya harus memasang kembali semua selang dan memanggil seorang dokter spesialis untuk memeriksa anda besok.” Tiba-tiba saya menjadi sangat takut dan mulai menangis tak terkendalikan lagi. Ini berarti untuk ketiga kalinya selang-selang itu dipasang kembali. Saya sudah bosan dengan harapan-harapan palsu, rasa sakit jarum-jarum suntik. Saya sudah jenuh!

Setelah para perawat pergi saya mendekati Allah dalam doa. ’Apakah Yehuwa sudah bosan dengan permintaan saya yang begitu banyak?’ terlintas dalam pikiranku. Saya merasa saya terlalu menuntut kasih kemurahanNya karena Ia telah membantu saya untuk bertahan sejauh ini.

Ketika Mike memasuki ruangan saya keesokan paginya, mukanya memperlihatkan kekecewaan yang besar. Ketika ia meninggalkan saya kemarin malam, keadaan saya begitu baik dan sekarang—saya merasa begitu kasihan padanya, kami menangis dan kemudian berdoa.

Dokter spesialis tiba dan meneguhkan apa yang dikuatirkan oleh dokter-dokter lain. Saya menderita gangguan pada usus kecil. Karena jumlah susunan darah saya masih rendah dokter spesialis itu memperingatkan: ”Oh, ibu, anda, tidak dapat menjalani operasi lagi untuk beberapa waktu lamanya.”

Zat besi diberikan dalam dosis tinggi untuk membentuk darah—dua suntikan masing-masing 5 cc tiap kali, sakit lagi. Orang yang sehat tidak akan tahan dengan dosis yang begitu tinggi, tapi saya dapat karena saya sangat kekurangan darah (anemia).

Kabar Baik

Pada hari ke-11 saya di rumah sakit, rontgen menunjukkan bahwa gangguan pada usus saya mulai berkurang. Dan Megan sudah sembuh benar. Saya harus cepat sembuh karena Megan menunggu saya untuk diajak pulang.

Hari-hari berikutnya ada lebih banyak kabar baik. Saya sudah dapat minum. Jumlah susunan darah saya mulai naik. Rontgen menunjukkan bahwa gangguan pada usus saya sudah hilang. Dan untuk pertama kalinya dalam 13 hari saya melihat kedua putri saya yang lain melalui jendela. Betapa gembiranya mereka! Begitu juga saya.

Kabar baik lagi setelah 17 hari dalam rumah sakit, saya akan pulang ke rumah—besok!

Hari yang kami doakan tiba. ’Sesungguhnya Allah telah mendengar; Ia telah memperhatikan doa yang saya ucapkan,’ pikir saya. (Mazmur 66:19) Saya mengucapkan terima kasih pada dokter atas segala sesuatu yang ia lakukan termasuk respeknya untuk hati nurani saya yang terlatih oleh Alkitab, karena tidak menyerah begitu saja. Saya memberitahunya betapa berhutang budi saya atas usahanya untuk menolong jiwa saya. ”Anda wanita yang beruntung,” katanya dengan ramah. Tentu saja, saya memberikan pujian itu pada Yehuwa.

Megan disiapkan dan dibawa masuk, diikuti dengan barisan para perawat. Kami berpelukan dan mengucapkan selamat berpisah. Kemudian kami masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumah untuk bersatu kembali dengan putri-putri dan orangtua kami. Betapa senangnya untuk pulang ke rumah dan hidup!—Diceritakan oleh Sherry Flemming.

[Gambar di hlm. 15]

Megan, anak kami yang sehat

    Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2026)
    Log Out
    Log In
    • Indonesia
    • Bagikan
    • Pengaturan
    • Copyright © 2026 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
    • Syarat Penggunaan
    • Kebijakan Privasi
    • Pengaturan Privasi
    • JW.ORG
    • Log In
    Bagikan