PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • g94 8/8 hlm. 30
  • Mengamati Dunia

Tidak ada video untuk bagian ini.

Maaf, terjadi error saat ingin menampilkan video.

  • Mengamati Dunia
  • Sedarlah!—1994
  • Subjudul
  • Anak-Anak dalam Peperangan
  • Pemakai Tembakau di India
  • Kafeina dan Kehamilan
  • Keluarga Bebas TV
  • Khasiat Bunga
Sedarlah!—1994
g94 8/8 hlm. 30

Mengamati Dunia

Anak-Anak dalam Peperangan

Selama sepuluh tahun terakhir, kira-kira 1,5 juta anak terbunuh dalam peperangan, menurut The State of the World’s Children 1994, sebuah laporan dari Dana Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa. Empat juta anak lainnya telah menjadi cacat, kehilangan kaki, buta atau mengalami kerusakan otak. Anak-anak yang menjadi pengungsi diperkirakan sekurang-kurangnya berjumlah lima juta. Anak-anak bahkan telah direkrut menjadi tentara. Di banyak negara, anak-anak disiksa dan dipaksa untuk menonton atau ambil bagian dalam kekejaman yang keji. Di suatu daerah, pemerkosaan anak-anak perempuan telah menjadi suatu ”senjata perang sistematis”. Laporan tersebut mengatakan, ”Tampaknya benar untuk menyimpulkan bahwa pernis peradaban belum pernah menjadi begitu tipis.”

Pemakai Tembakau di India

”Menurut angka-angka pemerintah, 142 juta pria dan 72 juta wanita di atas usia 15 tahun di India adalah pemakai tembakau yang tetap,” demikian kata British Medical Journal. Laporan tersebut menambahkan bahwa ”orang-orang yang lebih miskin mengunyah tembakau untuk menekan rasa lapar”. Dari segi ekonomi, tembakau sangat penting bagi India, karena India merupakan penghasil tembakau terbesar nomor tiga di dunia, setelah Cina dan Amerika Serikat, dan usaha ini mempekerjakan ribuan orang. Akan tetapi, timbulnya kanker mulut dan kanker hulu kerongkongan, laring, esofagus, dan paru-paru membuat prihatin ICMR (Dewan Riset Medis India). Sebagaimana dilaporkan Journal tersebut, ICMR menyatakan bahwa ”biaya perawatan para pasien yang menderita penyakit-penyakit yang berhubungan dengan penggunaan tembakau dinyatakan melebihi penghasilan yang didapatkan dari industri tembakau”. Para dokter dan lembaga swadaya masyarakat menganjurkan kampanye kesadaran umum untuk menyebutkan risiko kesehatan dari penggunaan tembakau, menghapuskan penanaman tembakau setahap demi setahap, dan memperkenalkan jenis palawija alternatif.

Kafeina dan Kehamilan

Pada tahun 1980, Departemen Pengawasan Obat-obatan dan Makanan AS menganjurkan agar para wanita hamil membatasi konsumsi kafeina, suatu zat kimia yang terdapat dalam kopi, teh, coklat, dan minuman-minuman kola. Anjuran tersebut dibuat terutama berdasarkan eksperimen-eksperimen atas binatang. Akan tetapi, sejak saat itu, penelitian-penelitian atas para wanita hamil telah menunjukkan dengan lebih meyakinkan lagi perlunya berhati-hati terhadap penggunaan kafeina. The Journal of the American Medical Association baru-baru ini melaporkan bahwa 75 persen dari wanita-wanita hamil yang mengkonsumsi kafeina, meskipun hampir semua penelitian telah memperlihatkan bahwa meminum lebih dari 300 miligram kafeina sehari (kira-kira tiga cangkir kopi) dapat merusak fetus. Meskipun demikian, sebuah penelitian yang lebih baru menyatakan bahwa bahkan tingkat kafeina yang lebih rendah​—163 miligram sehari​—dapat menambah risiko aborsi spontan pada beberapa wanita. Penulis penelitian tersebut mencatat, ”Anjuran yang masuk akal adalah mengurangi konsumsi minuman-minuman berkafeina selama kehamilan.”

Keluarga Bebas TV

Di sebuah sekolah yang kebanyakan muridnya bebas TV, guru-guru menyatakan bahwa mereka dapat dengan mudah mengenali beberapa anak yang terlalu banyak menonton TV. ”Jika Anda melihat anak-anak TK bermain-main menjadi jagoan dan berpura-pura membunuh dan menusuk dan terluka, itu merupakan petunjuk mutlak bahwa mereka menonton TV,” demikian seorang ahli menjelaskan. The Wall Street Journal melaporkan bahwa anak-anak yang berhenti menonton TV telah menarik manfaat. Seorang gadis berusia 17 tahun mengatakan bahwa ”sebelumnya, kami kebanyakan akan melihat Papa sebelum ia berangkat kerja. Ketika ia pulang, ia akan menonton TV bersama kami, lalu satu-satunya kalimat yang kami katakan adalah, ’Selamat malam, Pa.’ Kini kami berbicara sepanjang waktu, kami benar-benar akrab”. Ia menambahkan, ”Jika saya memiliki sebuah keluarga, saya tidak akan membeli TV.”

Khasiat Bunga

Tumbuh-tumbuhan di Pulau Madagaskar telah lama dibanggakan oleh penduduk setempat karena nilai medisnya. Ekstrak dari berbagai bunga telah digunakan untuk mengobati ”penyakit-penyakit mulai dari demam, eksim sampai tumor”, lapor jurnal Africa​—Environment & Wildlife. Bahkan anggrek yang cantik pun berguna. Sebagai contoh, sebuah spesies (Angraecum eburneum) sedang digunakan untuk melawan infeksi virus dan mencegah keguguran. Baru-baru ini, sebuah sumber obat untuk mengobati leukimia mulai tampak di pulau tersebut​—rosy periwinkle (Catharanthus roseus). Namun untuk berapa lama lagi orang-orang akan bisa mendapatkan manfaat dari bunga-bunga ini? ”Perlombaan sedang terjadi,” demikian sebuah laporan mengeluh, karena ”jumlah yang tak terbilang dari spesies-spesies yang belum ditemukan hilang setiap hari dengan adanya praktek-praktek komersial seperti penebangan hutan, pertanian dan pertambangan”.

    Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2026)
    Log Out
    Log In
    • Indonesia
    • Bagikan
    • Pengaturan
    • Copyright © 2026 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
    • Syarat Penggunaan
    • Kebijakan Privasi
    • Pengaturan Privasi
    • JW.ORG
    • Log In
    Bagikan