PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • g92 Oktober hlm. 30
  • Mengamati Dunia

Tidak ada video untuk bagian ini.

Maaf, terjadi error saat ingin menampilkan video.

  • Mengamati Dunia
  • Sedarlah!—1992
  • Subjudul
  • Titik Balik bagi PBB?
  • ”Neraka Itu Ada”?
  • Helikopter Pribadi?
  • Pemerkosaan Militer
Sedarlah!—1992
g92 Oktober hlm. 30

Mengamati Dunia

Titik Balik bagi PBB?

”Perserikatan Bangsa-Bangsa mungkin tidak pernah akan sama lagi setelah Konferensi Tingkat Tinggi Bumi,” komentar Charles Petit, seorang penulis ilmiah untuk San Fransisco Chronicle. Ia menambahkan, ”Akhirnya badan dunia ini tampaknya memperoleh wewenang tertinggi yang dipercayakan kepadanya sewaktu piagamnya ditandatangani 47 tahun yang lalu di San Fransisco.” Konferensi Tingkat Tinggi Bumi yang disponsori PBB, yang diselenggarakan pada bulan Juni 1992 di Rio de Janeiro, Brasil, berupaya menyampaikan beberapa masalah lingkungan yang sekarang dihadapi dunia; banyak di antaranya terlalu besar untuk diatasi oleh satu negara. Hilary French dari Worldwatch Institute mengomentari, ”Akibatnya, bangsa-bangsa menyerahkan sebagian kedaulatan mereka kepada masyarakat internasional dan mulai menciptakan suatu sistem baru dari pemerintahan lingkungan internasional.”

”Neraka Itu Ada”?

”Neraka itu ada; neraka itu kekal.” Demikian ditandaskan kaum Jesuit Italia dalam buletin mereka yang direstui Vatikan yaitu La Civiltà Cattolica. Mereka jelas merasa khawatir akan kecenderungan di dalam Gereja Katolik untuk membungkamkan keberadaan api neraka dan siksaannya yang disangka nyata. Sebagai contoh, mereka mengritik sebuah katekismus bagi orang-orang muda yang bahkan sama sekali tidak membahas satu halaman pun ”misteri hukuman yang setimpal bagi orang-orang jahat”. Kaum Jesuit tersebut mendesak agar ”api” dari api neraka itu bukan sekadar ”terasing dari hadirat Allah atau penyesalan akibat keadaan terkutuk”, namun, sebaliknya, meliputi rasa sakit sebagai hukuman atas dosa-dosa semasa di bumi. Mereka menganjurkan para teolog, pastor, dan guru katekismus untuk membahas neraka, khususnya kepada orang-orang muda. Tetapi, Alkitab tidak mengajarkan doktrin itu, melainkan bahwa orang-orang mati ”tak tahu apa-apa”.—Pengkhotbah 9:5.

Helikopter Pribadi?

Pernahkah Anda merasa frustrasi menghadapi kemacetan lalu lintas selama berjam-jam? Pernahkah Anda berpikir betapa nikmatnya bila Anda dapat naik ke angkasa dan turun di tempat tujuan Anda? Bagaimana dengan sebuah helikopter pribadi? Dikembangkannya helikopter ultra ringan yang pertama adalah inovasi terakhir dalam bidang penerbangan, demikian laporan surat kabar Italia Il Messaggero. Bobotnya hanya 230 kilogram dengan kecepatan maksimum 150 kilometer per jam. Harganya $60.000 dan biaya untuk menerbangkannya sekitar $1 per mil. Walaupun lebih kecil dibandingkan ”saudara-saudaranya yang besar”, ia masih dapat terbang pada ketinggian 4.000 meter dan berdaya jangkau 320 kilometer.

Pemerkosaan Militer

Selama Perang Dunia II, ribuan gadis dan wanita muda dari negeri-negeri Asia Timur ditawan tentara Jepang untuk melayani prajurit-prajurit di garis depan. Secara halus disebut sebagai ”wanita-wanita penghibur”, mereka yang tidak mati karena penyakit kelamin akan ditinggalkan untuk mati sewaktu pasukan mengundurkan diri. Lima puluh tahun kemudian seorang pria tampil di hadapan umum untuk mengakui keterlibatannya dan meminta maaf. Seiji Yoshida, yang berusia 78 tahun, ”tidak dapat menghapus kenangan tatkala ia menendangi anak-anak Korea yang bergayut, dan meraung-raung seraya anak buahnya menggiring ibu-ibu mereka yang masih muda ke dalam truk untuk dijadikan budak seks bagi Pasukan Kekaisaran Jepang”, kata Mainichi Daily News. Ketika ditanya apa yang ia rasakan saat itu, surat kabar tersebut melaporkan jawaban Yoshida, ”Kami hanya melaksanakan perintah. Secara kejiwaan, kami berada pada titik terendah. Ini hanyalah bisnis. Tidaklah mungkin untuk memiliki ideologi yang berbeda. Saya tidak merasakan apa pun. Saya sibuk, saya putus asa, saya dikendalikan.” Pejabat-pejabat militer dari banyak negeri telah mengupayakan untuk menyediakan wanita-wanita bagi prajurit mereka, melalui penawanan atau sebagai pelacur bayaran.

    Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2026)
    Log Out
    Log In
    • Indonesia
    • Bagikan
    • Pengaturan
    • Copyright © 2026 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
    • Syarat Penggunaan
    • Kebijakan Privasi
    • Pengaturan Privasi
    • JW.ORG
    • Log In
    Bagikan