PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • g91 November hlm. 30-31
  • Mengamati Dunia

Tidak ada video untuk bagian ini.

Maaf, terjadi error saat ingin menampilkan video.

  • Mengamati Dunia
  • Sedarlah!—1991
  • Subjudul
  • Penderitaan Afrika
  • Insentif untuk Berhenti Merokok
  • Lebih Banyak Tikus daripada Manusia
  • ”Ibu yang Paling Subur”
  • Pemandangan Bumi Suram
  • TV Disalahkan
  • Mati karena Aborsi
  • Transfusi Darah Bukanlah ”Hadiah Kehidupan”
  • Ditemukan Spesies Baru
  • Satu Bulan Tanpa Mobil
  • Nilai dari Kentang yang Rendah Hati
Sedarlah!—1991
g91 November hlm. 30-31

Mengamati Dunia

Penderitaan Afrika

”Badan Kesehatan Sedunia [WHO] memperkirakan bahwa 1,2 juta dari antara 1,7 juta wanita Afrika dijangkiti Human Immunodeficiency Virus (HIV), virus yang menyebabkan AIDS,” demikian pernyataan surat kabar Nigeria Sunday Concord. Kemungkinan bayi-bayi yang dilahirkan para wanita ini untuk dijangkiti virus tersebut adalah 20 sampai 45 persen, ”ini menunjukkan bahwa prestasi yang dibuat untuk menyelamatkan dan membesarkan anak dalam dua dekade terakhir dapat dengan segera berbalik”. Di sebuah negara Afrika Timur, 14 persen korban AIDS adalah anak-anak di bawah usia empat tahun.

◻ Menurut WHO, kolera juga melanda sejumlah negara Afrika ”dengan kecepatan yang mengerikan”. Meskipun kasus yang dilaporkan di Afrika lebih sedikit daripada di Amerika Selatan, tempat epidemi tersebut berjangkit pada awal tahun ini, angka kematian di Afrika jauh lebih tinggi. Hingga tanggal 18 Juli tahun ini, ada 3.488 kematian yang dilaporkan. Zambia memiliki lebih dari 11.000 kasus kolera, dengan 981 kematian; di Nigeria ada lebih dari 7.600 kasus dan 990 kematian; dan Ghana memiliki sekitar 6.500 kasus dan 181 kematian.

◻ Karena dilanda kekeringan dan ratusan ribu orang melarikan diri dari perang sipil di Somalia, Etiopia, dan Sudan, ”jutaan orang menghadapi bencana kelaparan” di wilayah Horn Afrika kata James C. Ingram, direktur eksekutif dari World Food Program (Program Pangan Sedunia). Dikhawatirkan bahwa kelaparan akan separah bencana serupa yang menimpa wilayah itu pada pertengahan 1980-an, ketika lebih dari satu juta orang meninggal karena kelaparan.

Insentif untuk Berhenti Merokok

”Kanker paru-paru, serangan jantung, stroke. Bagi beberapa orang yang menyukai berbagai kegiatan yang riskan, bahaya yang memautkan akibat merokok malahan meningkatkan daya tarik rokok, sebagaimana dibuktikan oleh riset,” ulas Science News. ”Namun dua laporan baru yang menyorot pengaruh tidak mematikan akibat merokok, bisa menyediakan suatu insentif bahkan bagi para penantang bahaya tersebut untuk membuang kebiasaan menghirup nikotin.” Penelitian pertama menunjukkan bahwa sepertiga dari seluruh jumlah wanita yang menderita masalah yang memalukan akibat berurine [buang air kecil] tidak terkendali dapat melacak penyebab masalahnya yaitu kebiasaan merokok yang dahulu maupun yang sekarang. Penelitian kedua menemukan bahwa wajah para perokok pria maupun wanita lebih cepat keriput dan proses keriput tersebut meningkat sejalan dengan kebiasaan dan jumlah batang rokok yang dihisap. Kemungkinan para perokok berat memiliki keriput pada kulit hampir lima kali daripada rekan mereka yang tidak merokok. ”Bagi banyak perokok, khususnya remaja, bukti bahwa merokok menyebabkan keadaan seperti keriput, nafas tak sedap atau gigi kuning lebih menuntut perhatian daripada bukti bahwa rokok memautkan,” kata Thomas E. Kottke dari Mayo Clinic di Rochester, Minnesota, A.S.

Lebih Banyak Tikus daripada Manusia

Badan Kesehatan Sedunia (WHO) memperkirakan bahwa terdapat kira-kira 70 juta tikus, atau 4 tikus untuk setiap penduduk di São Paulo, Brasil, demikian laporan surat kabar Jornal da Tarde. Sebagai hasilnya, ketika banjir melanda kota itu, penyakit seperti leptospirosis, suatu penyakit yang ditularkan melalui air kencing tikus, berjangkit di mana-mana. ”Jika pemberantasan tikus bergantung hanya kepada racun, akan sangat mudah untuk melenyapkan mereka,” kata Minekazu Matsuo, direktur Control of Rodents and Disease-Bearers (Badan Pengendalian Binatang Pengerat dan Pembawa Penyakit) di São Paulo. Akan tetapi, bila makanan dan air berlimpah, racun tidak menolong karena tikus-tikus tidak memakannya. Untuk memberantas tikus, kata Matsuo, penting agar sampah yang menjadi makanan mereka dibersihkan.

”Ibu yang Paling Subur”

Leontina Judith Espinoza tercatat sebagai ”ibu yang paling subur di dunia” dalam Guinness Book of World Records. Menurut surat kabar Brasil O Estado de S. Paulo, wanita itu kini sedang mengandung anaknya yang ke-74 pada usia 60 tahun. Ia telah mengandung 35 kali dan melahirkan 73 anak, 39 di antaranya kembar tiga dan 24 kembar dua. Anaknya yang tertua dari 61 anak yang masih hidup berusia 44 tahun. ”Lahir di Argentina dan menjadi warganegara Chile sejak tahun 1963,” kata surat kabar tersebut, ”Leontina hidup bersahaja bersama suami dan 32 anaknya di sebuah desa dekat Rancagua, 90 kilometer di sebelah selatan Santiago.”

Pemandangan Bumi Suram

Para astronot yang mengelilingi bola bumi dengan mengendarai pesawat ruang angkasa Atlantis pada bulan Agustus melaporkan adanya suatu kabut tebal di sekeliling bumi yang mengaburkan pemandangan bumi dari ruang angkasa. Kabut tersebut diperkirakan berasal dari debu akibat ledakan gunung berapi di Filipina dan Jepang dan dari asap tebal akibat dibakarnya sumur-sumur minyak di Kuwait. Para astronot berkata bahwa antara keadaan atmosfer bumi terlihat jelas perbedaannya dibanding pada penerbangan sebelumnya. Seraya ia melihat kebakaran minyak di Kuwait dari ruang angkasa, komandan penerbangan Kolonel John E. Blaha berkata, ”Ini benar-benar pemandangan yang menyedihkan.”

TV Disalahkan

Lagi-lagi televisi disalahkan atas menurunnya kemampuan membaca siswa-siswa. Nilai ujian lisan dari siswa-siswa perguruan tinggi di Amerika Serikat mencapai nilai yang amat rendah pada tahun 1991. William M. Honig, direktur pendidikan umum di California berkata, ”Semakin banyak Anda menonton televisi, semakin rendah kesanggupan membaca Anda.” Di lain pihak, Michael Fitzmaurice dari National Association of Broadcasters berupaya membela televisi. Ia berkata, ”Satu hal yang kita ketahui adalah bagian terbesar yang menentukan keberhasilan anak di sekolah adalah waktu yang digunakan orang-tua untuk membaca bersama anak-anaknya. Bahkan jika Anda menyingkirkan televisi, kemampuan anak di sekolah tidak akan berkembang.”

Mati karena Aborsi

”Hingga 100.000 wanita mati karena aborsi setiap tahun dan 200.000 [wanita] dirawat di rumah sakit akibat komplikasi di Nigeria,” demikian laporan surat kabar Nigeria Sunday Concord. Mungkin, kurang lebih sebanyak 20 persen kasus-kasus tersebut menimpa remaja belasan tahun. Konon Dr. Uche Azie, direktur Family Planning International Assistance, berkata bahwa ”banyak upaya aborsi dilakukan oleh diri mereka sendiri”. Ia menunjukkan bahwa ketidaktahuan akan perkara-perkara seksual merupakan penyebab utama kehamilan yang mengarah kepada aborsi.

Transfusi Darah Bukanlah ”Hadiah Kehidupan”

Apakah transfusi darah benar-benar menyelamatkan kehidupan? Semakin banyak kalangan medis yang meragukannya. Direktur hematologi Australia’s Sydney Royal North Shore Hospital membahas sehubungan amannya transfusi darah di Medical Journal of Australia. Ia percaya bahwa terdapat hubungan antara kanker, infeksi dan transfusi darah. Media Courier-Mail Brisbane mengutip kata-kata sang dokter sebagai berikut, ”Transfusi darah semula dipandang sebagai hadiah kehidupan, namun pandangan itu telah berubah dan persepsi umum dewasa ini bahwa pembedahan tanpa darah dan menghindari transfusi merupakan hadiah kehidupan. Berdasarkan data yang baru, dikemukakan bahwa transfusi darah pada waktu pembedahan dapat membawa risiko kambuhnya kanker dan infeksi pasca-operasi merupakan hal yang perlu diperhatikan.”

Ditemukan Spesies Baru

”Kathryn Fuller, presiden dari the World Wildlife Fund, tidak perlu mencari jauh-jauh dari kantornya di Washington, D.C., dan menemukan semut kuning pucat yang terbukti baru bagi ilmu pengetahuan,” kata majalah National Geographic. Semut-semut tersebut, yang terpikat datang ke mejanya oleh remah-remah makanan, ditelusuri sampai kepada sebuah liang. Spesimen diberikan kepada peneliti semut Edward O. Wilson dari Harvard University, yang mendapati bahwa semut-semut tersebut termasuk sebuah genus yang disebut Pheidole, dan ia merencanakan untuk memberi nama spesies baru ini sesuai nama wanita itu. ”Jika Anda dapat menemukan spesies baru di kantor Washington,” kata Fuller, ”jumlah spesies, di alam bebas sana yang masih harus diteliti benar-benar luar biasa.”

Di sisi lain, suatu spesies ikan paus baru ditemukan di pantai Samudera Pasifik Peru—untuk pertama kali dalam 28 tahun. Binatang itu merupakan anggota kelompok yang terkecil yang disebut ikan paus berparuh. Ukuran makhluk jantan dewasa dari spesies ini adalah 4 meter. Tampaknya begitu jarang bahwa para ilmuwan harus menunggu 15 tahun untuk mendapati cukup spesimen dalam mengumumkan spesies baru ini, yang sekarang disebut Mesoplodon peruvianus. Ikan paus ini tampaknya pemakan cumi-cumi. ”Bagaimana caranya jenis ikan paus ini, yang bahkan relatif kecil bentuknya, dapat luput dari pengamatan sekian lama merupakan misteri,” ulas The New York Times.

Satu Bulan Tanpa Mobil

Dalam menanggapi permintaan para sosiolog, enam keluarga di Bremen, Jerman bersedia tidak menggunakan mobil mereka selama satu bulan. Mereka bepergian dengan jenis kendaraan lain, dan mereka mencatat pengalaman harian mereka. ”Mobil mengurung pemakainya terhadap lingkungan,” demikian keterangan pemimpin proyek Profesor Krämer-Badoni di surat kabar Süddeutsche Zeitung. ”Anda hanya ingin sampai di tujuan secepat mungkin.” Namun apabila seseorang bepergian dengan bis atau sepeda atau berjalan kaki, ia menjadi tanggap dengan sekitarnya, memperhatikan bangunan yang menarik atau memulai percakapan. ”Perjalanan menjadi penting bagi mereka,” kata sang profesor. Dengan mengikuti eksperimen ini, lima dari keluarga-keluarga tersebut menjual mobil mereka.

Nilai dari Kentang yang Rendah Hati

”Ketika para penjajah dari Eropa tiba di Amerika, mereka mendapat gagasan bahwa kekayaan adalah logam dan batu-batu permata. Tiga abad harus berlalu sebelum nilai ekonomis dari kentang ’ditemukan’.” Pernyataan tersebut dikatakan oleh Eduardo H. Rapoport, dari Regional University Center of Bariloche, Argentina, di surat kabar Brazil Ciència Hoje. Kentang merupakan salah satu makanan yang penting dan bergizi dan mengandung banyak vitamin. Maka, kentang bernilai miliaran dollar setiap tahun. Rapoport menambahkan, ”Nilai hasil panen kentang dunia dalam satu tahun jauh lebih tinggi dari seluruh emas dan perak yang diambil Spanyol dari Amerika.”

    Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2026)
    Log Out
    Log In
    • Indonesia
    • Bagikan
    • Pengaturan
    • Copyright © 2026 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
    • Syarat Penggunaan
    • Kebijakan Privasi
    • Pengaturan Privasi
    • JW.ORG
    • Log In
    Bagikan