PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • g86_No16 hlm. 18-19
  • Perpuluhan—Apakah Perlu?

Tidak ada video untuk bagian ini.

Maaf, terjadi error saat ingin menampilkan video.

  • Perpuluhan—Apakah Perlu?
  • Sedarlah!—1986 (No. 16)
  • Subjudul
  • Perpuluhan dan Hukum Musa
  • Suatu Perubahan Hukum
  • Cara Orang Kristen Memberi
Sedarlah!—1986 (No. 16)
g86_No16 hlm. 18-19

Pandangan Alkitab

Perpuluhan—Apakah Perlu?

SEKRETARIS keuskupan Anglikan di Afrika Selatan merasa kuatir. Gerejanya dilanda krisis keuangan yang membuat sulit untuk membayar para pendeta. Jalan keluar yang ia berikan, Menandaskan perpuluhan kepada kaum awam.

Tetapi apa sebenarnya perpuluhan itu? Beberapa orang berpendapat perpuluhan adalah memberikan ”sepersepuluh bagian dari seluruh penghasilan yang anda terima” untuk tujuan-tujuan keagamaan. Walaupun cara menghitung perpuluhan berbeda dalam tiap agama, banyak pendeta berpendapat bahwa perpuluhan perlu digalakkan. ”Sayang sekali kita tidak lebih banyak menekankan perlunya memberi perpuluhan,” kata seorang imam Katolik di Afrika. Dalam sebuah artikel majalah mengenai cara mengatasi kemiskinan dengan menjadi rekan Allah, Gereja Allah Sedunia mengatakan, ”Untuk memulai hubungan anda dengan Allah, anda pertama-tama harus mentaati hukum Allah berkenaan perpuluhan.” Artikel itu menambahkan bahwa mereka yang tidak berbuat demikian ”mencuri sesuatu dari Allah”.

Tetapi apakah Allah menuntut anda membayar perpuluhan? Mungkin anda terkejut mempelajari apa yang Alkitab katakan mengenai hal itu.

Perpuluhan dan Hukum Musa

Perpuluhan adalah bagian dari hukum Taurat yang diberikan Allah kepada bangsa Israel purba melalui Musa. Kedua belas suku Israel dituntut oleh Taurat untuk menunjang suku ke-13, yaitu imam-imam keturunan Lewi, yang tidak mempunyai warisan tanah. Ini memungkinkan suku Lewi untuk memusatkan perhatian kepada kebutuhan rohani bangsa itu. (Bilangan 18:21-24) Sebagai bangsa agraria, orang-orang Israel tidak dituntut untuk membayar perpuluhan secara tunai. Tetapi, perpuluhan dihitung dari hasil bumi dan bertambah banyaknya ternak. Jika perpuluhan dari hasil itu akan diberikan dan seorang Israel ingin memberikan uang sebagai gantinya, maka ia harus membayar 20 persen lebih banyak dari pada nilai hasil itu.—Imamat 27:30-33.

Perintah Allah berkenaan perpuluhan adalah soal serius. Jika seorang Israel tanpa sengaja menggunakan apa yang seharusnya diberikan sebagai perpuluhan, ia harus memberikan ganti rugi. Cara bagaimana? Dengan memberikan tambahan sebanyak 20 persen dan mempersembahkan korban binatang untuk kesalahannya. (Imamat 5:14-16) Walaupun tidak setiap orang Israel dapat menjadi imam, setiap orang dapat ikut menunjang pelayanan imamat dengan membayar perpuluhan. Semua ini dicantumkan dalam hukum Allah tentang perpuluhan. Karena itu, hal ini cocok dengan keadaan dari bangsa purba itu. Tetapi apakah ini cocok dengan keadaan orang dewasa ini? Lebih penting lagi, apakah orang Kristen diperintahkan untuk memberikan perpuluhan?

Suatu Perubahan Hukum

Beberapa tahun setelah Yesus dibangkitkan, orang-orang bukan Yahudi yang tidak disunat ditobatkan kepada Kekristenan. ”Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa,” kata beberapa orang Kristen Yahudi. (Kisah 15:5) Ada yang tidak setuju. Maka rasul-rasul Yesus dan orang Kristen lainnya yang berpengalaman berkumpul di Yerusalem untuk membahas persoalan itu. Mereka ingin mengerti kehendak Allah. Apakah Dia menuntut agar pengikut-pengikut Kristus memelihara Taurat Musa, termasuk perpuluhan? Pengalaman-pengalaman dikemukakan untuk menunjukkan bahwa ada perubahan dalam cara Allah berurusan dengan orang-orang bukan Yahudi, dan hal ini dibuktikan dari Firman nubuat Allah sendiri. (Kisah 15:6-21) Bagaimana keputusannya?

Rapat ini menghasilkan kesepakatan bersama. Orang Kristen tidak perlu dibebani dengan Taurat Musa. Walaupun demikian, ada ”yang perlu” yang harus ditaati. Apakah perpuluhan salah satunya? Keputusan yang terilham itu berbunyi, ”Adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini: kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati lemas [dicekik, NW] dan dari percabulan.” (Kisah 15:25, 28, 29) Menarik sekali, hukum Allah berkenaan perpuluhan tidak dicantumkan di antara ”yang perlu ini” bagi orang-orang Kristen.

Kemudian, rasul Paulus menjelaskan bahwa perjanjian Taurat Allah dengan Israel telah ditiadakan oleh kematian Yesus. ”[Allah] menghapuskan surat hutang,” katanya. ”Dan itu ditiadakanNya dengan memakukannya pada kayu salib [tiang siksaan, NW].” (Kolose 2:14) Ini tidak berarti bahwa orang Kristen tidak memiliki hukum. Sebaliknya, ada perubahan hukum yang kini tercakup di dalam ”hukum Kristus”.—Galatia 6:2; Ibrani 7:12.

Rasul Paulus hidup selaras dengan perubahan hukum ini. Walaupun bekerja keras membentuk sidang-sidang, dia tidak pernah meminta bayaran berupa perpuluhan. Sebaliknya, ia rela menutupi pengeluarannya sendiri dengan bekerja sebagai pembuat tenda separuh waktu. (Kisah 18:3, 4) Dengan sejujur-jujurnya dia dapat mengatakan, ”Dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku.”—Kisah 20:34.

Kalau begitu, patokan apa yang dimiliki orang Kristen berkenaan soal memberi? Seberapa banyak yang harus anda berikan?

Cara Orang Kristen Memberi

Yesus Kristus adalah pria yang paling dermawan yang pernah hidup di bumi. Teladannya telah membangkitkan semangat suka memberi bagi banyak orang. ”Berilah,” katanya, ”dan kamu akan diberi, suatu takaran yang baik; yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Lukas 6:38) Apakah ada pembatasan-pembatasan? Tidak. Orang Kristen dianjurkan untuk memberi dengan murah hati, bahkan mungkin lebih dari sepersepuluh bagian jika mereka mampu.—Lukas 18:22; Kisah 20:35.

Sebaliknya, seorang Kristen mungkin tiba-tiba dihadapkan pada kebutuhan yang mendesak, mungkin karena kecelakaan atau sakit. Memberikan sepersepuluh dari gajinya di bawah keadaan-keadaan demikian mungkin menyebabkan anggota-anggota keluarganya terlantar. Hal ini tidak bersifat Kristen.—Matius 15:5-9; 1 Timotius 5:8.

Pemberian orang Kristen adalah sukarela. Perlu diingat bahwa setiap orang mempunyai keadaan ekonomi yang berbeda. ”Jika kamu rela untuk memberi,” kata Alkitab, ”maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.”—2 Korintus 8:12.

Kalau begitu, berapa banyak yang harus anda beri? Ini adalah pertanyaan yang harus anda jawab sendiri. Seberapa dalam penghargaan saudara terhadap Allah, bukan rumus perpuluhan yang telah ditentukan sebelumnya, akan menentukan apa yang akan anda berikan. Sebagaimana Alkitab anjurkan, ”Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” (2 Korintus 9:7) Perpuluhan adalah persediaan dari perjanjian Taurat Musa untuk menunjang terselenggaranya bait dan imamat di Israel. Bagi orang-orang Kristen dewasa ini, perpuluhan tidak diperintahkan atau diperlukan

    Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2026)
    Log Out
    Log In
    • Indonesia
    • Bagikan
    • Pengaturan
    • Copyright © 2026 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
    • Syarat Penggunaan
    • Kebijakan Privasi
    • Pengaturan Privasi
    • JW.ORG
    • Log In
    Bagikan