PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • g85_No14 hlm. 29-30
  • Bukankah ”Berlaku Baik” Saja Sudah Cukup Baik?

Tidak ada video untuk bagian ini.

Maaf, terjadi error saat ingin menampilkan video.

  • Bukankah ”Berlaku Baik” Saja Sudah Cukup Baik?
  • Sedarlah!—1985 (No. 14)
  • Subjudul
  • Bahan Terkait
  • Apa yang Dimaksud dengan ”Berlaku Baik”?
  • Bagaimana Menjadi Lebih Baik, Tidak Hanya Baik Saja
  • Layani Yehuwa Tanpa Tersimpangkan
    Menara Pengawal Memberitakan Kerajaan Yehuwa—2015
  • Maria Memilih ”Bagian yang Baik”
    Menara Pengawal Memberitakan Kerajaan Yehuwa—1999
  • ”Aku Percaya”
    Tirulah Iman Mereka
  • Marta
    Pemahaman Alkitab, Jilid 2
Lihat Lebih Banyak
Sedarlah!—1985 (No. 14)
g85_No14 hlm. 29-30

Bukankah ”Berlaku Baik” Saja Sudah Cukup Baik?

BETAPA menyenangkan dunia ini jika semua orang yang hidup benar-benar baik! Tidak seorang pun, tidak soal jenis kelamin atau usianya, perlu merasa takut akan dirampok, diperkosa, atau diperlakukan dengan sewenang-wenang. Tidak akan ada penjara, dan tidak akan ada polisi, atau tentara. Ya, benar-benar suatu dunia yang menyenangkan!

Memang, di bawah keadaan sekarang, mengharapkan dunia semacam itu nampaknya sangat tidak realistis. Meskipun demikian, orang-orang yang berusaha menempuh kehidupan yang baik patut dipuji. Usaha-usaha mereka mungkin kelihatan tidak banyak hasil dalam menciptakan suatu dunia yang lebih baik, namun sedikitnya mereka tidak membuat keadaan menjadi lebih buruk.

Namun apakah ”berlaku baik” saja sudah cukup baik? Mungkin hal itu akan menyenangkan teman-teman dan tetangga-tetangga kita, tetapi apakah hal itu cukup baik untuk menyenangkan Pencipta kita? Orang-orang yang ingin mendapat perkenan Allah ingin mengetahuinya.

Apa yang Dimaksud dengan ”Berlaku Baik”?

”Ia seorang anak yang baik” sering kali berarti tidak lebih dari pada bahwa ia tidak jahat, yaitu, tidak dikenal telah melakukan hal-hal yang jahat. Tetapi dalam arti agama, berlaku baik harus mencakup lebih banyak. Mengapa?

Tidak dapat disangkal, banyak orang ateis, agnostik, dan orang-orang yang tidak beragama, baik secara moral. Mereka tidak dikenal karena berbuat jahat. Tetapi apakah mereka baik dalam pengertian ini sudah cukup baik untuk menyenangkan Pencipta, yang eksistensiNya mereka sangkal, ragukan, atau lebih senang mereka abaikan? Jelas tidak.

Jadi, pengetahuan saksama tentang apa yang Allah anggap baik itu perlu, agar kita, ’karena tidak mengenal kebenaran Allah,’ tidak berusaha ”mendirikan kebenaran [kita] sendiri.” (Roma 10:1-3) Ini salah, karena standar-standar manusia mengenai apa yang benar—apa yang kita anggap baik—sangat kurang dibandingkan dengan standar ilahi.

Selama pelayanannya di bumi, Putra Allah Yesus Kristus menyatakan apa standar ilahi untuk kebaikan ini. Seorang muda yang kaya bertanya kepadanya: ”Perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Kisah mengenai percakapan mereka benar-benar membuka pikiran. Kita membaca: ”’Turutilah segala perintah Allah.’ Kata orang itu kepadaNya: ’Perintah yang mana?’ Kata Yesus: ’Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.’ Kata orang muda itu kepadaNya: ’Semuanya itu telah kuturuti, apalagi yang masih kurang?’ Kata Yesus kepadanya: ’Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutilah Aku.’ Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.”—Matius 19:16-22.

Terutama mengingat betapa bebasnya tingkah laku moral dan sosial dewasa ini, tidakkah anda akan menganggap pria ini baik? Ia tidak pernah membunuh, tidak pernah berzinah, tidak pernah mencuri, tidak pernah mengucapkan saksi dusta, tidak pernah gagal dalam menghormati orangtuanya atau mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri.

Tetapi Yesus menyatakan bahwa meskipun orang ini baik, masih belum cukup baik. Ada yang masih kurang, sesuatu yang membuat kebaikannya masih belum sempurna, atau lengkap. Apakah itu? Kasih yang rela berkorban untuk Allah yang akan mendorong dia menjadi pengikut Kristus. Kasih yang rela berkorban yang juga akan membuat dia berperanserta dengan aktif dalam mengabarkan Kerajaan Allah. Yesus melatih para pengikutnya untuk melakukan pekerjaan ini. Karena ayat itu mengatakan bahwa pria ini ”banyak hartanya,” kemungkinan besar hal itu menyita banyak dari waktunya. Dengan mengikuti nasihat Yesus yang praktis untuk membebaskan dirinya dari harta benda ini, membagikannya kepada orang-orang miskin, ia akan menaruh kepentingan materi di tempat yang kurang penting dari pada kepentingan rohani. Hal ini akan memungkinkan dia untuk terus ’mencari dahulu Kerajaan’ itu dengan jauh lebih sedikit hal yang mengganggu perhatiannya.—Matius 6:33.

Jadi berlaku baik dalam pandangan Allah berarti lebih dari sekedar tidak berbuat jahat. Ini berarti aktif berbuat baik dengan menjadi pengikut Kristus. Ini termasuk memberikan ”kesaksian tentang kebenaran” tentang Allah dan maksud-tujuanNya, ’menyatakan namaNya’ kepada orang-orang lain, maupun dengan bergairah membela Dia terhadap tuduhan-tuduhan palsu dan dusta, seperti yang Yesus lakukan. (Yohanes 17:4, 6; 18:37) Ini juga berarti ”memberi bantuan.”—Ibrani 13:15, 16.

Bagaimana Menjadi Lebih Baik, Tidak Hanya Baik Saja

Karena berlaku baik masih belum cukup baik, apa yang harus kita lakukan untuk menjadi lebih baik? Lukas 10:38-42 memberi kita suatu petunjuk. Di sana kita membaca: ”Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia [Yesus] di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: ’Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.’ Tetapi Tuhan menjawabnya: ’Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu; Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.’”

Apa yang disingkapkan oleh percakapan ini? Meskipun melayani Yesus secara jasmani patut dipuji, mendengarkan ajaran-ajarannya, dengan demikian memperlihatkan penghargaan yang sepatutnya untuk soal-soal rohani, jauh lebih baik. Apa yang dilakukan Marta memang baik. Tetapi pada saat yang khusus itu tidak cukup baik. Jadi apa yang dilakukan Maria lebih baik.

Menekankan nilai-nilai rohani, sebaliknya dari hal-hal jasmani atau materi, juga ditandaskan oleh Yesus dalam KhotbahNya di Bukit. Ia mengatakan: ”Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah [sadar akan kebutuhan rohaninya. NW], karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.”—Matius 5:3.

Apakah anda mengenal orang-orang yang baik yang, meskipun berlaku demikian, tidak secara khusus ”sadar akan kebutuhan rohaninya”? Mungkin demikian. Sebenarnya, anda mungkin bahkan menyadari bahwa anda sendiri salah satu dari mereka. Jika demikian, anda berlaku bijaksana jika anda berusaha mempelajari standar Allah untuk apa yang baik dengan memalingkan perhatian anda kepada hal-hal rohani.

Dengan berbuat demikian anda dapat mempunyai harapan untuk hidup dan melihat sistem yang baru dari Allah yang tidak lama lagi akan didirikan di seluruh bumi. Di sana, tidak seorang pun akan mempunyai risiko akan dirampok, atau takut akan diperkosa atau diperlakukan dengan sewenang-wenang . Tidak akan ada lagi penjara. Juga tidak akan ada lagi polisi atau tentara—karena mereka akan mendapatkan pekerjaan yang lebih berguna.

    Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2026)
    Log Out
    Log In
    • Indonesia
    • Bagikan
    • Pengaturan
    • Copyright © 2026 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
    • Syarat Penggunaan
    • Kebijakan Privasi
    • Pengaturan Privasi
    • JW.ORG
    • Log In
    Bagikan