PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • w85_s-12 hlm. 21-24
  • Kebiasaan Berkabung—Bagaimana Pandangan Saudara?

Tidak ada video untuk bagian ini.

Maaf, terjadi error saat ingin menampilkan video.

  • Kebiasaan Berkabung—Bagaimana Pandangan Saudara?
  • Menara Pengawal Memberitakan Kerajaan Yehuwa—1985 (s-12)
  • Subjudul
  • Bahan Terkait
  • Berkabung Itu Patut
  • Kebiasaan-Kebiasaan Berkabung Apa?
  • Berkat-Berkat Karena Setia
  • Pandangan Kristen mengenai Kebiasaan Pemakaman
    Menara Pengawal Memberitakan Kerajaan Yehuwa—1998
  • Waspadailah Kebiasaan yang Tidak Menyenangkan Allah
    Menara Pengawal Memberitakan Kerajaan Yehuwa—2005
  • Berkabung; Perkabungan
    Pemahaman Alkitab, Jilid 1
  • Kepedihan Hati
    Pemahaman Alkitab, Jilid 1
Lihat Lebih Banyak
Menara Pengawal Memberitakan Kerajaan Yehuwa—1985 (s-12)
w85_s-12 hlm. 21-24

Kebiasaan Berkabung—Bagaimana Pandangan Saudara?

SEPANJANG sejarah, kematian merupakan suatu pengalaman yang sudah umum bagi umat manusia. Namun meskipun kita terbiasa dengannya, akibat yang menyedihkan dari kematian atas orang-orang yang masih hidup tidak berkurang. Mengetahui bahwa seseorang yang menjadi bagian dari kehidupan saudara sudah tidak ada lagi, sering menimbulkan kesedihan yang dalam dan berlangsung lama, dan suatu perasaan kehilangan yang pedih.

Agama seharusnya mengurangi rasa sedih yang diakibatkan oleh kematian, namun sering justru sebaliknya. Di beberapa negeri kesedihan yang diakibatkan oleh kematian atas orang-orang yang ditinggalkan berubah menjadi perasaan ngeri ketika mereka diberitahu bahwa orangtua dan sanak keluarga mereka yang telah meninggal kini sebagai roh-roh yang menaruh dendam dan harus ditenteramkan dengan upacara-upacara berkabung yang layak. Jika tidak mereka kan menghantui orang yang masih hidup. Selain itu, jika suatu keluarga Kristen ditinggalkan, kemungkinan mereka harus mengambil keputusan berkenaan kebiasaan setempat, seperti mengenakan pakaian khusus dan mengadakan upacara-upacara agama yang mungkin diharapkan oleh orang-orang lain.

Allah Yehuwa telah berjanji bahwa pada suatu saat Ia akan menyingkirkan pengalaman yang menyedihkan karena kematian ini dari keluarga manusia. (Wahyu 21:4) Dan sementara itu Ia telah memberi kita FirmanNya, Alkitab, sebagai ’terang bagi jalan kita’. (Mazmur 119:105) Jika kita ragu-ragu berkenaan apa yang patut dilakukan, Alkitab menunjukkan kepada kita jalan yang Allah ingin agar kita tempuh. (Yesaya 30:21) Mari kita membahas petunjuk yang diberikannya untuk peristiwa yang paling menyedihkan itu, pada waktu seseorang yang akrab dengan kita meninggal.

Berkabung Itu Patut

Seperti sudah dikatakan, sudah wajar untuk merasa sangat sedih bila seseorang yang kita kasihi meninggal. Tetapi orang-orang Kristen tahu bahwa akan ada kebangkitan. Maka, mereka tidak mengalami kesedihan yang hebat disertai keputusasaan yang sering diperlihatkan oleh orang-orang yang tidak mempunyai harapan. (1 Tesalonika 4:13) Kematian tidak perlu berarti selamat tinggal untuk selama-lamanya

Jadi, Abraham ’meratapi Sara dan menangisinya’ ketika ia meninggal. (Kejadian 23:2) Ishak, putranya, membutuhkan ’penghiburan setelah ibunya meninggal’. (Kejadian 24:67) Begitu besar kesedihan dari teman-teman dan sanak keluarga Lazarus yang mati sehingga Yesus sendiri ”menangis”. (Yohanes 11:35) Teman-teman dari keluarga yang ditinggalkan dapat memperlihatkan kasih dengan berkunjung dan memberikan hiburan pada saat yang menyedihkan sedemikian.—Yohanes 11:31.

Tetapi, saudara akan memperhatikan bahwa dalam kasih-kasih Alkitab mengenai perkabungan, dan mengenai menghibur mereka yang ditinggalkan, menenangkan orang mati tidak pernah disebutkan. Hamba-hamba Allah tahu bahwa orang mati itu tidur, tidak sadar. (Yohanes 11:11-14; Pengkhotbah 9:5, 10) Orang mati tidak menderita di alam baka, dan mereka juga tidak berubah menjadi roh-roh yang menaruh dendam dan berbahaya. (Mazmur 146:3, 4) Jadi, umat Yehuwa tidak boleh meniru bangsa-bangsa di sekitarnya dalam tindakan-tindakan yang mencerminkan sikap yang salah terhadap orang mati.—Ulangan 14:1; 18:10-12.

Dewasa ini, juga, bila mempertimbangkan hal-hal yang umum dilakukan demi ’menghormati orang mati’, kita harus menentukan apa makna kebiasaan itu sekarang. Apakah hal itu dihubungkan dengan dengan suatu ajaran yang salah atau takhayul tertentu? Jika demikian, apakah seorang Kristen harus mengikutinya?—Roma 13:12-14.

Kebiasaan-Kebiasaan Berkabung Apa?

Di antara beberapa bangsa di bumi, janda-janda dan duda-duda harus mengenakan pakaian khusus dan tetap berkabung, dengan banyak pembatasan atas kebebasan mereka, selama satu tahun. Apakah kebiasaan ini tidak bertentangan dengan kepercayaan Kristen?

Memang dapat dimengerti, seorang Kristen yang kehilangan orang yang ia kasihi, mungkin akan berpakaian dan bertindak lebih tenang untuk suatu waktu. (Bandingkan 2 Samuel 13:19; 2 Raja 6:30.) Namun ini berbeda sekali dengan mengenakan, selama suatu jangka waktu yang panjang, pakaian yang pada pikiran masyarakat dihubungkan dengan kepercayaan yang tidak berdasarkan Alkitab tentang orang yang mati. Jika janda-janda Kristen menolak untuk mengikuti kebiasaan-kebiasaan sedemikian, mereka kadang-kadang diancam oleh sanak keluarga dan tetangga-tetangga yang menyatakan bahwa mereka akan mendapat ’sial’ atau bahwa ”roh” dari suami yang meninggal akan marah dan mendatangkan malapetaka atas mereka. Orang-orang yang percaya kepada takhyul ini mungkin juga takut bahwa hujan tidak akan turun, atau bahwa panen akan gagal.

Seorang janda tidak mengikuti kebiasaan ini, sehingga putranya mengatakan, ”Roh ayahku tidak akan beristirahat dengan tenang.” Di tempat lain, kepala suku mengancam untuk mengusir semua hamba Yehuwa dari daerah itu! Beberapa orang ada yang begitu marah sehingga mereka merusak tempat perhimpunan Kristen dengan linggis dan kapak. Di tempat lain juga, seorang janda Kristen ditelanjangi dan dengan kejam dicambuk oleh polisi suku itu.

Mengapa janda-janda Kristen ini tidak mau melakukan apa yang diharapkan oleh tetangga-tetangga mereka? Mungkin saudara secara pribadi menganggap tidak ada salahnya untuk ikut saja dengan kebiasaan setempat demi ”kesopanan”. Dan mengenai beberapa kebiasaan tertentu, hal itu memang benar. Tetapi bagaimana pandangan mereka terhadap orang Kristen itu jika ia ikut serta dengan upacara-upacara agama yang dimaksudkan untuk menenangkan ”roh-roh nenek moyang”? Ingatlah, mereka yang melakukan kebiasaan-kebiasaan sedemikian pada masa-masa yang lampau tidak diijinkan untuk tetap menjadi bagian dari masyarakat Israel atau sidang Kristen yang mula-mula.—Ulangan 13:12-15; 18:9-13; 2 Korintus 6:14-18; 2 Yohanes 9, 10.

Pertimbangkan beberapa alasan untuk ini. Antara lain, dengan ikut ambil bagian dalam upacara-upacara sedemikian, seseorang mendukung dan, sebenarnya, memajukan suatu agama yang bukan Kristen. Ia akan menunjukkan bahwa dalam hatinya ia masih menjadi bagian dari agama palsu.—Wahyu 18:4.

Di seluruh dunia, Saksi-Saksi Yehuwa dikenal karena mengajarkan Alkitab. Salah satu kebenaran Alkitab yang mereka tonjolkan ialah bahwa orang mati tidak sadar, tidak menderita dalam neraka ataupun mengembara di bumi dan dapat mencelakakan keturunan mereka. Alkitab mengatakan, ”Orang yang mati tak tahu apa-apa.” (Pengkhotbah 9:5) Ajaran ini telah menghibur ratusan ribu orang. Jadi, orang-orang di kebanyakan masyarakat pada umumnya tidak mengharapkan bahwa orang-orang Kristen ini ambil bagian dalam upacara-upacara agama yang dimaksud untuk menenangkan orang mati.

Maka, apa yang akan terjadi, jika orang-orang Kristen sejati, karena tekanan dari sanak keluarga atau tetangga-tetangga, setuju untuk mengikuti kebiasaan-kebiasaan berkabung yang tidak bersifat Kristen? Tidakkah tetangga-tetangga itu akan menyimpulkan bahwa mungkin orang-orang Kristen tidak benar-benar mempercayai apa yang mereka beritakan? Bahwa mungkin mereka dapat diajak berkompromi dalam bidang-bidang lain? Pasti. Jadi, banyak pekerjaan baik akan sia-sia, dan orang-orang dapat tersontoh.—Matius 18:6; 2 Korintus 6:3.

Maka, para penatua dan orang-orang lain dalam sidang memberikan dukungan sebanyak mungkin kepada mereka yang baru-baru ini berkabung. Mereka memberikan dukungan apapun yang diperlukan untuk membantu orang-orang tersebut berdiri teguh demi kebenaran seraya menghadapi tekanan-tekanan untuk mengikuti kebiasaan-kebiasaan yang tidak bersifat Kristen.—Bandingkan 2 Korintus 1:3, 4.

Bagaimana jika, meskipun telah diberi bantuan, seorang Kristen mulai mengikuti kebiasaan-kebiasaan berkabung yang tidak bersifat Kristen? Para penatua akan bertindak dengan ramah. Rasul Paulus menasihati, ”Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut.” (Galatia 6:1) Sang murid Yakobus menambahkan, ”Saudara-saudaraku, jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik, ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa.”—Yakobus 5:19, 20.

Ada baiknya untuk mengingat bahwa Allah sendiri ”menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat”. (2 Petrus 3:9) Para penatua pertama-tama akan berusaha keras untuk memulihkan orang yang bersalah itu. Dalam banyak hal pasti akan diketahui bahwa kesedihan yang besar disertai rasa takut kepada tetangga-tetangga telah menekan orang yang berkabung ini sehingga mengambil langkah yang salah. Mudah-mudahan, dengan bantuan yang ramah dan tenggang rasa, untuk selanjutnya ia akan ’meluruskan jalan bagi kakinya, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh’.—Ibrani 12:13.

Tetapi, jika seorang Kristen mengikuti kebiasaan berkabung yang tidak bersifat Kristen dan, menolak bantuan dari rekan-rekan Kristennya, berkeras untuk terus mengikuti haluan yang tidak bersifat Kristen itu, maka pada akhirnya para penatua harus bertindak, memastikan agar kebiasaan-kebiasaan sedemikian tidak membingungkan para pengamat atau memasukkan kebiasaan-kebiasaan yang salah ke dalam sidang Kristen. Siapapun yang menyembah nenek moyangnya bukan lagi seorang Kristen sejati, dan langkah-langkah hendaknya diambil untuk memastikan agar semua mengakui fakta ini.—1 Korintus 5:13.

Berkat-Berkat Karena Setia

Banyak orang Kristen mendapati bahwa kesetiaan dalam soal yang penting ini mendatangkan hasil-hasil yang baik. Edwina Apason, seorang wanita Kristen di Suriname, menceritakan pengalamannya, ”Pada suatu waktu, ketika memimpin pelajaran Alkitab, saya mendapat kabar yang mengejutkan. Ketika ikut serta dalam suatu unjuk perasaan, putra saya yang tertua, yang bukan seorang Saksi, telah ditembak mati. Kematian ini benar-benar menyedihkan dan lebih banyak ketegangan ditimbulkan olehnya, karena sanak keluarga saya mengatakan, ’Jika anda tidak mengikuti kebiasaan-kebiasaan berkabung, anda tidak mempunyai perasaan keibuan untuk putra anda.’ Adat menuntut agar saya menggunting rambut, membalut kepala saya dengan syal putih, mengenakan pakaian berkabung selama berbulan-bulan, dengan sengaja berjalan perlahan-lahan, dan berbicara dengan berbisik-bisik—ini semua untuk menunjukkan kepada orang-orang dan apa yang dianggap ’roh orang mati’ bahwa saya benar-benar sedih. Namun, jika saya melakukan ini semua, pasti pengabaran saya akan sia-sia dan saya akan kehilangan hati nurani yang bersih di hadapan Allah.” Jadi, Edwina tidak berkompromi.

Seorang pria menyatakan bibinya yang meninggal dengan tetap tentu mengunjunginya di malam hari. Menurut dia apa yang diinginkan bibinya? Ia menjawab, ”Agar suatu korban dibuat untuk dia di ujung sungai.” Bagaimana jika korban ini tidak dibuat? Ada ancaman kematian. Selama hidup, bibi ini seorang yang sangat pengasih. Tetapi, setelah mati, ia menurut dugaan bertindak seperti pribadi yang kejam, dan mengancam. Mungkinkah ini benar-benar orang yang sama? Dengan akal sehat dan menggunakan Alkitab, pria ini dan orang-orang lain seperti dia telah dibebaskan dari rasa takut kepada orang mati. Mereka telah belajar bahwa penglihatan-penglihatan, suara-suara, dan hantu-hantu adalah perbuatan malaikat-malaikat yang berdosa, roh-roh jahat.—Bandingkan 2 Korintus 11:3, 14; Efesus 6:12.

Hamba-hamba Yehuwa menyadari bahwa jika mereka tetap berada pada jalan yang telah Ia tetapkan bagi mereka, akhirnya mereka akan mendapat berkat hidup kekal. (Yesaya 30:21) Setan selalu menggunakan cara-cara yang licik dan memperdayakan untuk berusaha membuat mereka tersandung dan menyeleweng dari jalan itu. (1 Petrus 5:8, 9) Ia tahu bahwa mereka mungkin khususnya lemah pada waktu berkabung atas kematian seseorang yang dikasihi. Meskipun demikian, orang-orang Kristen bertekad untuk setia kepada Yehuwa dalam semua hal, meskipun adanya tekanan. Dalam hal ini, seperti dalam soal-soal lain, mereka ”harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia”. (Kisah 5:29) Jadi mereka membuktikan betapa dalam pembaktian mereka kepada Allah Yehuwa, dan mereka dapat menantikan pahalaNya bagi mereka yaitu hidup dalam sistem baruNya di mana kematian dan perkabungan ”tidak akan ada lagi”.—Wahyu 21:4.

    Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2026)
    Log Out
    Log In
    • Indonesia
    • Bagikan
    • Pengaturan
    • Copyright © 2026 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
    • Syarat Penggunaan
    • Kebijakan Privasi
    • Pengaturan Privasi
    • JW.ORG
    • Log In
    Bagikan