Pertanyaan Pembaca
◼ Jika Musa memang benar-benar lembut dan rendah hati, bagaimana mungkin ia menulis di Bilangan 12:3 bahwa ’Musa sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia’?
Walaupun tidak mudah untuk melakukannya, Musa bisa saja menulis pernyataan yang saksama itu di bawah ilham Allah.
Suatu ciri bahwa Alkitab diilhamkan oleh Allah adalah kejujuran dari para penulisnya. Musa dan pria-pria lain yang digunakan Allah untuk menulis bagian-bagian dari Alkitab, menulis hal-hal yang luar biasa jujur.
Misalnya, Musa menulis kasus-kasus mengenai kegagalan dan dosa-dosa yang dilakukan bangsanya, termasuk dari saudara-saudaranya laki-laki dan perempuan. (Keluaran 16:2, 3; 17:2, 3; 32:1-6; Imamat 10:1, 2) Musa juga tidak menutupi kesalahannya; dengan terus terang ia menceritakan kesalahan-kesalahannya sendiri, bahkan hal yang membuat ia ditegur Yehuwa. (Bilangan 20:9-12; Ulangan 1:37) Maka tidak bertentangan bagi Musa untuk menulis suatu kenyataan yang objektif yang Yehuwa ingin agar dicantumkan—bahwa Musa sendiri luar biasa lembut hatinya. Latar belakang di mana pernyataan itu tercantum, menjelaskan hal yang dimaksudkan. Dari pada menjadi marah ketika Miriam dan Harun menantang wewenangnya, Musa membiarkan Allah membereskan keadaannya.
Musa menggambarkan Mesias. (Ulangan 18:15-19) Jadi ketika Yehuwa menari perhatian kepada sifat lembut dari Musa, Ia memberikan jaminan bahwa sifat yang bagus ini akan terdapat pada diri Mesias. Apabila kita membaca keempat Injil, bukankah sifat lembut dari Yesus menarik, mengundang kita kepadanya dan memberikan alasan kepada kita untuk menaruh kepercayaan kepadanya?—2 Korintus 10:1; Ibrani 4:15, 16.