PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • w83_No56 hlm. 31-32
  • Pertanyaan Pembaca

Tidak ada video untuk bagian ini.

Maaf, terjadi error saat ingin menampilkan video.

  • Pertanyaan Pembaca
  • Menara Pengawal Memberitakan Kerajaan Yehuwa—1983 (No. 56)
Menara Pengawal Memberitakan Kerajaan Yehuwa—1983 (No. 56)
w83_No56 hlm. 31-32

Pertanyaan Pembaca

● Apakah patut bagi orang-orang Kristen untuk merayakan ulang tahun perkawinan mereka?

Bukan hal yang bertentangan dengan Alkitab apabila suatu pasangan yang telah menikah memperingati ulang tahun perkawinan mereka dengan cara yang pantas dan sopan. Tetapi ini bukan suatu keharusan.

Pada dasarnya ulang tahun adalah berulangnya setiap tahun tanggal dari suatu kejadian di masa lalu. Ada berbagai macam ulang tahun. Orang-orang kafir memiliki perayaan-perayaan ulang tahun yang menonjol dari kejadian-kejadian istimewa. Tetapi hamba-hamba Allah juga memiliki perayaan-perayaan ulang tahun. (Kel. 12:14, 24-27; Yoh. 10:22, 23; 1 Kor. 11:23-26) Tentu, semua ulang tahun atau peringatan yang dicatat dalam Alkitab secara langsung menyangkut segi-segi ibadat yang sejati. Namun, dari sini kita dapat melihat bahwa tidak semua ulang tahun harus dijauhkan. Semua itu bergantung pada apa yang diperingati dan bagaimana.

Seorang Kristen jelas akan menghindari perayaan-perayaan yang menyangkut kebiasaan-kebiasaan agama palsu atau yang bertentangan dengan Alkitab. (Yoh. 4:24) Biasanya dewasa ini, ulang tahun perkawinan bukan suatu perayaan agama. Tetapi apakah kebiasaan memperingati perkawinan seseorang berasal dari agama kafir purba? Rupanya tidak. Encyclopedia Americana terbitan 1971 mengatakan: ”Kebiasaan keluarga untuk merayakan ulang tahun perkawinan nampaknya berkembang di Eropa Barat. Kutipan yang mula-mula sekali tentang hal ini dalam bacaan bahasa Inggris muncul pada abad ke-17.”—Jil. 28, hlm. 564.

Kini menjadi kebiasaan di beberapa negeri bagi suami dan istri untuk memberi perhatian istimewa kepada ulang tahun perkawinan mereka. Ada juga pasangan Kristen yang melakukan hal ini. Mereka dengan sungguh-sungguh merasa bahwa mereka dapat mengokohkan ikatan perkawinan mereka dengan mengingat secara pribadi dan tentang peristiwa yang menyenangkan pada waktu mereka menjadi suami istri. Pada ulang tahun perkawinan tersebut mereka dapat melihat kembali kemajuan yang telah mereka buat dalam membina perkawinan yang bahagia dan menyegarkan tekad mereka untuk meneruskan usaha ke arah tersebut.

Pasangan-pasangan lain mungkin senang membagikan kebahagiaan ulang tahun perkawinan mereka dengan beberapa teman Kristen dan sanak keluarga, termasuk anak-anak mereka. Jika ini dilakukan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yang menyangkut keseimbangan.

Untuk setiap pertemuan ramah-tamah atau perayaan, selalu harus diperhatikan agar segala sesuatu tetap terkendali. Bahkan suatu perayaan yang sopan dapat menjadi tidak terkendali atau dapat menjurus kepada tingkah laku yang tidak patut, seperti yang rupanya telah terjadi sewaktu-waktu di antara orang-orang Yahudi pada abad pertama. (Yoh. 2:10) Tidak diragukan lagi hal sedemikian tentu salah bagi orang-orang Kristen. (1 Ptr. 4:3, 4) Juga tidak selayaknya jika orang-orang yang turut merayakan memberikan kehormatan yang berlebihan kepada manusia, seolah-olah pasangan yang ulang tahun perkawinannya dirayakan harus dipuja. Alkitab dengan jelas memperlihatkan bahwa pemujaan harus ditujukan kepada Pencipta, bukan kepada ciptaan apapun di bumi, apakah itu hewan atau manusia. (Rm. 1:24, 25) Jika suatu pasangan telah berhasil dalam perkawinan mereka, hal itu baik. Patut jika orang-orang lain dapat berbahagia karena mereka. Tetapi bukankah dengan demikian pujian syukur patut diberikan kepada Pencipta dari perkawinan? Dialah yang harus tetap diingat dan segala sesuatu yang dilakukan hendaknya mendatangkan kehormatan bagi Dia.

Dalam memberikan komentar di atas, kami tidak bermaksud menganjurkan pasangan-pasangan yang tidak mempunyai kebiasaan ini supaya mulai merayakan ulang tahun perkawinan mereka. Sebenarnya, kami tidak bermaksud menganjurkan atau mencegah diadakannya ulang tahun perkawinan. Masing-masing pasangan dapat, tanpa dikritik oleh orang lain, memutuskan secara pribadi apa yang akan dilakukan. Keadaan atau hati nurani dari suatu pasangan mungkin menjadi dasar bagi mereka untuk tidak memberi perhatian istimewa kepada kejadian itu. Tetapi pasangan lain mungkin memperingati ulang tahun perkawinan mereka. Jika demikian, maka keputusan tentang bagaimana mereka akan melakukan hal ini harus dibuat dengan mengingat nasihat: ”Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”—1 Kor. 10:31.

    Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2026)
    Log Out
    Log In
    • Indonesia
    • Bagikan
    • Pengaturan
    • Copyright © 2026 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
    • Syarat Penggunaan
    • Kebijakan Privasi
    • Pengaturan Privasi
    • JW.ORG
    • Log In
    Bagikan