PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • w81_No39 hlm. 29-31
  • Dapatkah Saudara Mengasihi dengan Cara yang Lebih Baik?

Tidak ada video untuk bagian ini.

Maaf, terjadi error saat ingin menampilkan video.

  • Dapatkah Saudara Mengasihi dengan Cara yang Lebih Baik?
  • Menara Pengawal Memberitakan Kerajaan Yehuwa—1981 (No. 39)
Menara Pengawal Memberitakan Kerajaan Yehuwa—1981 (No. 39)
w81_No39 hlm. 29-31

Dapatkah Saudara Mengasihi dengan Cara yang Lebih Baik?

DARI segala sifat yang dapat kita pupuk, ”yang paling besar . . . ialah kasih”. (1 Kor. 13:13) Kasih yang dimaksudkan oleh rasul Paulus di sini bukanlah éros, yang didasarkan atas daya tarik seks, yang menjadi asal dari kata ”erotik”; juga ia tidak memaksudkan storgé, yakni kasih yang didasarkan atas ikatan keluarga; bukan pula philía, kasih yang didasarkan atas persamaan dalam hal-hal yang disukai dan tidak disukai secara pribadi. Sebenarnya, kata Yunani yang dipakai oleh sang rasul di sini adalah agápe, kasih yang positif berdasarkan prinsip dan betul-betul ramah.

Kita dapat mengasihi, antara lain dengan memberikan sesuatu yang bersifat materi atau yang bernilai secara materi. Pemberian sedemikian pada dasarnya baik. Tetapi mungkinkah ada cara yang jauh lebih baik? Beberapa tahun yang lalu seorang siswa Alkitab yang sungguh-sungguh dikasihi pernah menyatakan, ’Jika kita dapat memilih antara memberikan lebih banyak uang kepada pekerjaan Tuhan atau memberikan lebih banyak waktu dan tenaga kita, tindakan yang lebih bijaksana tentulah memilih yang belakangan—memberikan lebih banyak waktu dan tenaga kita.’ Apa sebab? Karena, pilihan ini betul-betul dapat menghasilkan lebih banyak kemuliaan dan kepujian bagi Allah, dan kebahagiaan yang lebih besar bagi orang yang bersangkutan.

Pada umumnya, orang-orang Kristen Saksi-Saksi Yehuwa menyadari prinsip ini. Beberapa tahun yang lalu, sebuah kepala berita surat kabar di Pittsburgh menyatakan, ”Saksi-Saksi Yehuwa Menyumbangkan Jerih-Payah untuk Membangun Balai Kebaktian Dekat Pelabuhan Udara.” Artikel itu memuat potret besar yang memperlihatkan berlangsungnya pekerjaan, dan menuturkan bahwa ribuan orang dengan suka rela membantu, bahkan kadang-kadang yang datang membantu lebih banyak dari pada yang dapat ditampung. Membaca berita ini, seorang diaken gereja Protestan tergugah, lalu mengemukakan keluhannya mengenai sambutan buruk yang ia dapat sewaktu adanya panggilan bantuan untuk suatu proyek yang ia awasi, ”Ingat betapa besarnya jumlah gereja-gereja Protestan serta semua kelompok gabungan yang berkepentingan dalam proyek tersebut . . . [namun] sulit bagi saya untuk mendapatkan enam orang sekaligus, yang mau memberikan satu hari kerja sukarela guna membangun suatu proyek.” Rupanya, para pengunjung gereja yang begitu banyak merasa lebih mudah untuk menyumbangkan uang mereka dari pada memberikan diri sendiri, memberikan waktu dan tenaga.

Tetapi, kalau kita bersikap terus terang, seperti halnya para penulis Alkitab yang diilhami oleh Allah, perlu kita perhatikan bahwa orang-orang yang mengaku sebagai hamba-hamba yang berbakti sepenuhnya kepada Allah Yehuwa kadang-kadang juga kurang dalam hal ini. Misalnya, sehubungan dengan pembangunan sebuah Balai Kebaktian Saksi-Saksi Yehuwa baru-baru ini, orang yang mengepalai pembangunan gedung ini menyatakan bahwa sambutan yang diberikan oleh saudara-saudara dalam bentuk sumbangan uang benar-benar menakjubkan; meskipun balai itu akan memakan biaya hampir sejuta dolar, jumlah ini pasti dapat dilunasi pada saat bangunan itu selesai. Akan tetapi, sewaktu diminta untuk mendukung pembangunan proyek ini dengan menyediakan waktu dan tenaga pribadi, kelihatannya penghargaan yang sama sangat kurang.

Apa persoalannya? Nampaknya banyak orang merasa bahwa sumbangan keuangan yang telah mereka berikan dengan limpah sudah cukup. Memberikan sumbangan dengan limpah memang sangat bagus. Meskipun demikian, setelah memberikan uang tidak berarti bahwa mereka tak perlu lagi memikirkan bantuan berupa waktu dan tenaga jika mereka dapat memberikannya. Dapat dikatakan bahwa Yesus Kristus menandaskan hal ini ketika menyuruh seorang penguasa muda yang kaya bukan hanya menjual hartanya dan memberikan hasil penjualannya kepada orang miskin tetapi juga mengikuti dia setelah itu.—Luk. 18:18-23.

Prinsip yang sama ini berlaku dalam semua segi dari dinas Kristen. Sebenarnya, bukankah lebih baik apabila seseorang membaktikan seluruh waktu dan tenaganya untuk melayani Allah jika ia sanggup berbuat demikian? Mungkin lebih mudah untuk memasukkan uang ke dalam kotak sumbangan di Balai Kerajaan, dari pada datang untuk membersihkan Balai serta memelihara kebun di sekelilingnya bila seseorang ditugaskan untuk melakukan hal itu. Tetapi bukankah hal yang belakang ini memperlihatkan lebih banyak kasih? Boleh jadi lebih mudah menyumbang uang untuk mencetak Alkitab dan bacaan-bacaan Alkitab lainnya dari pada memberikan waktu untuk menyampaikan bahan-bahan cetakan ini ke rumah orang-orang, sambil memberitakan kabar kesukaan tentang kerajaan Allah dan berusaha menjadikan murid. Tetapi sekali lagi, bukankah hal yang belakangan ini suatu cara yang lebih baik untuk memperlihatkan kasih, dan bukankah itu yang Yesus nubuatkan dan perintahkan agar dilakukan oleh para pengikutnya? Memang demikian, seperti dapat dilihat dalam Matius 24:14 dan Matius 28:19, 20.

Dalam lingkungan keluarga prinsip ini juga berlaku. Seorang suami yang membelanjakan uang untuk istrinya patut dipuji. Tetapi bukankah mengasihi istrinya dengan memberikan waktu, perhatian dan minat memperlihatkan lebih banyak kasih? Sebenarnya, ia dapat saja sangat murah hati dalam soal uang walaupun tidak benar-benar mengasihi istrinya. Misalnya pernah ada seorang pengacara yang terkemuka dalam bidang politik yang menyediakan kebutuhan istrinya dengan limpah secara materi. Tetapi suatu hari istrinya terkejut sekali ketika mengetahui bahwa si suami mempunyai wanita piaraan. Jadi pemberian perkara-perkara materi mungkin ama sekali bukan suatu pernyataan kasih sejati. Bergantung pada keadaan, para suami mungkin dapat menyediakan banyak atau sedikit hal-hal materi; tetapi mengenai ”jalan yang lebih utama”, baik orang yang kaya maupun yang miskin mempunyai kesempatan yang sama.—1 Kor. 12:31–13:13.

Keadaannya sama mengenai para orangtua dalam hal mengasihi anak-anak mereka. Beberapa orangtua, semasa kanak-kanak tidak mendapatkan barang-barang yang ada di dunia ini. Karena itu mereka bertekad agar anak-anak mereka memiliki barang-barang yang bagus secara limpah, pakaian yang bagus, mainan, barang-barang kesenangan mereka, apa saja. Tetapi jika orangtua terus berbuat demikian, mereka sangat tidak bijaksana. Jauh lebih penting agar mereka memberikan diri mereka sendiri, waktu, minat dan tenaga mereka kepada anak-anak. Hal ini memang mungkin meminta lebih banyak pengorbanan, namun tindakan sedemikian juga lebih mendatangkan berkat. Dengan kata lain, jangan biarkan TV atau seorang pengasuh menggantikan anda kecuali dalam keadaan darurat, atau pada kesempatan-kesempatan lain yang jarang; dan bukan agar orangtua dapat lebih sering ke kelab malam!

Jadi hendaklah kita tetap ingat bahwa cara yang lebih baik untuk memperlihatkan kasih adalah dengan memberikan diri kita sendiri, waktu, tenaga, minat, perhatian, kasih sayang kita. Memberikan barang-barang yang bernilai materi untuk dinas Allah atau kepada orang-orang yang kita kasihi adalah suatu hal yang baik, karena hal-hal itu penting; tetapi hendaklah kita tidak pernah merasa puas dengan pemberian demikian jika kita juga dapat memberikan perkara-perkara yang lebih bernilai. Dan andai kata keadaan memungkinkan untuk memilih salah satu di antaranya, marilah kita memperlihatkan kasih yang lebih baik maupun hikmat yang lebih besar dengan memberikan diri kita sendiri, menyerahkan bahkan ’jiwa kita sendiri’. Itulah apa yang dilakukan oleh rasul Paulus, dan betapa limpahnya Allah memberkati dia dalam hal itu!—1 Tes. 1:6-10; 2:8.

    Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2026)
    Log Out
    Log In
    • Indonesia
    • Bagikan
    • Pengaturan
    • Copyright © 2026 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
    • Syarat Penggunaan
    • Kebijakan Privasi
    • Pengaturan Privasi
    • JW.ORG
    • Log In
    Bagikan