Surat Pembaca
Pendidikan Saya baru saja tamat dari sebuah universitas di Nigeria dan gagal mendapatkan nilai tertinggi dengan selisih 2 persen. Saya merasa agak depresi. Maka sewaktu Anda menerbitkan artikel ”Meletakkan Pendidikan pada Tempatnya” (8 Agustus 1994) dan memperlihatkan bahwa pendidikan hendaknya tidak dikejar semata-mata untuk menonjolkan keadaan terpelajar, saya mulai melihat berbagai hal dalam perspektif yang sepatutnya. Walaupun profesor saya menyarankan saya untuk mengambil kuliah pascasarjana, saya dengan serius mempertimbangkan hal itu selaras dengan apa yang telah saya pelajari.
G. J., Nigeria
Saya berusia 14 tahun dan mengalami banyak tekanan untuk mengejar pendidikan yang lebih tinggi. Dengan bantuan dari artikel Anda, saya telah memutuskan apa yang ingin saya lakukan. Saya ingin menjadi seorang perintis [penginjil sepenuh waktu], dan jika saya membutuhkan pelatihan ekstra untuk mendapatkan pekerjaan, saya akan mengambil sekolah kejuruan dan mempelajari fotografi.
H. O., Amerika Serikat
Saya memilih untuk tidak mendapatkan pendidikan tambahan. Saya memilih menggunakan waktu tersebut untuk mengajar orang-orang lain tentang Pencipta kita. Orang-orang biasanya mengagumi pengetahuan saya yang luas tentang berbagai pokok. Mereka bertanya, ”Apakah Anda kuliah?” Saya memberi tahu mereka bahwa saya telah mempelajari apa yang saya ketahui dari Alkitab dan lektur yang disediakan oleh Lembaga Menara Pengawal.
M. L., Amerika Serikat
Artikel Anda memperlihatkan kepada saya perlunya mempertimbangkan baik-buruknya pendidikan tambahan. Saya merasa perlu bersekolah kembali tetapi tidak ingin melalaikan aktivitas-aktivitas rohani. Saya menjelaskan jadwal perhimpunan Kristen saya kepada sekretaris sekolah dan ia mengatur kelas-kelas saya sehingga saya dapat menghadiri semua perhimpunan saya.
M. F. S., Brasil
Mengapa Masih Lajang? Terima kasih banyak atas artikel ”Pertanyaan Kaum Muda . . . Mengapa Setiap Orang Menikah tetapi Saya Belum?” (8 November 1995) Pernikahan menjadi trend baru-baru ini di daerah saya meskipun banyak di antaranya berusia sangat muda. Beberapa orang merasa prihatin terhadap saya, karena saya sudah berusia 18 tahun dan tidak mempunyai teman pria khusus. Artikel itu muncul tepat pada waktunya untuk membantu saya memiliki sikap yang seimbang.
S. Z., Jerman
Saya berusia 19 tahun dan masih lajang, saya sering bertanya-tanya apa yang masih kurang dalam diri saya sehingga tidak seorang pun yang memperlihatkan minat kepada saya. Beberapa orang yang tidak seiman telah memperlihatkan minat, tetapi bukan perhatian semacam itu yang saya inginkan. Artikel ini membantu saya untuk menyadari bahwa kesabaran itu sangat penting dan bahwa apa yang benar-benar penting adalah bahwa saya menyenangkan Yehuwa.
J. G., Amerika Serikat
Sebagai seorang pria lajang yang berusia 38 tahun, saya pernah mengajukan pertanyaan yang dimuat dalam judul artikel itu. Karena mengalami banyak penolakan oleh saudari-saudari Kristen yang lajang, saya benar-benar menyadari rasa sakit yang disebabkan oleh ”harapan yang tertunda”. (Amsal 13:12) Sungguh lega mengetahui bahwa Yehuwa tidak menyalahkan perasaan dari orang-orang Kristen yang lajang dalam situasi ini dan bahwa Ia menghargai ketekunan kita yang setia.
D. T., Amerika Serikat
Seniman Terbesar Setelah membaca seri ”Pencarian akan Seniman Terbesar” (8 November 1995), saya tergerak untuk menyatakan penghargaan saya. Saya juga telah menyaksikan terlalu banyak program televisi tentang alam namun tidak memberikan pujian kepada sang Perancang Agung. Akan tetapi, Sedarlah!, secara konsisten memberikan pujian kepada Allah kita yang agung, Yehuwa.
E. Z., Amerika Serikat
Sungguh suatu cara baru yang menakjubkan untuk memperlihatkan penghargaan kepada Yehuwa! Mutu dari karya seni-Nya memang lain daripada yang lain, sebagaimana terlihat dari jumlah karya-Nya yang tidak tertandingi. Saya juga mengacungkan jempol bagi banyak seniman berbakat yang menjadikan Sedarlah! menarik dengan tujuan menarik perhatian orang-orang kepada Allah Yehuwa.
M. Q., Amerika Serikat