PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • g92 22/3 hlm. 22-25
  • Apa Gerangan Intuisi Itu?

Tidak ada video untuk bagian ini.

Maaf, terjadi error saat ingin menampilkan video.

  • Apa Gerangan Intuisi Itu?
  • Sedarlah!—1992
  • Bahan Terkait
  • ’Rasa Ingin Tahu Berkobar di Hati dan Pikiran’
    Menara Pengawal Memberitakan Kerajaan Yehuwa—1999
  • Alam Semesta yang Penuh Kejutan
    Sedarlah!—2009
  • Tahun Istimewanya Einstein
    Sedarlah!—2005
  • Mengamati Dunia
    Sedarlah!—2003
Lihat Lebih Banyak
Sedarlah!—1992
g92 22/3 hlm. 22-25

Apa Gerangan Intuisi Itu?

SUATU malam pada tahun 1893, seorang opas di perusahaan batu bara di Detroit, Michigan, A.S., melihat suatu benda rumit terbuat dari beberapa suku cadang dan roda-roda sepeda, riuh bergemerincing melintasi jalan. Tiba-tiba, ia mendapat praduga (suatu perasaan yang kuat)—sekilas intuisi. Ia pun tahu bahwa ini suatu penemuan yang akan terpakai di masa depan. Segera ia mengambil tabungan masa depannya sebesar seribu dolar dan menginvestasikannya ke perusahaan penemu tersebut, mengabaikan cemoohan para pakar yang mengatakan bahwa alat aneh itu tidak akan pernah populer. Kira-kira 30 tahun kemudian, ia menjual sahamnya dalam perusahaan mobil Henry Ford sebesar 35 juta dolar A.S. Paling tidak, intuisinya mendatangkan untung besar!

Ilmuwan kondang Albert Einstein juga memanfaatkan kilasan intuisi. Ia mendapat gagasan—sesuatu yang belakangan ia sebut sebagai pemikiran yang paling membahagiakan dalam kehidupannya—yang mengarah kepada lahirnya teori yang terkenal yaitu relativitas umum. Einstein menyimpulkan bahwa intuisi amat penting bagi penemuan hukum-hukum alam. Namun, tidak semua perasaan Einstein terbukti sukses dengan gemilang. Ia mengaku bahwa ia pernah kehilangan dua tahun penuh kerja keras dengan menuruti intuisi yang menyesatkan yang tidak pernah mendatangkan hasil yang baik.

Tentu saja, intuisi tidak selalu mengarah kepada ketenaran dan keberuntungan, tidak juga dimiliki hanya oleh orang-orang pandai dan multimiliuner. Bagi banyak di antara kita, intuisi merupakan hal biasa dalam kehidupan sehari-hari. Ia dapat memainkan peranan dalam banyak keputusan yang kita buat: keputusan untuk tidak mempercayai orang yang tidak dikenal, keputusan untuk menyetujui perjanjian bisnis, dugaan bahwa ada sesuatu yang terjadi pada seorang teman yang suaranya terdengar agak kurang wajar sewaktu berbicara di telepon.

Namun, banyak orang mengandalkan intuisi untuk membuat keputusan yang jauh lebih penting: karier apa yang harus dikejar, di mana ia harus tinggal, siapa yang akan dinikahi, bahkan agama apa yang harus dianut. Apabila intuisi dalam bidang-bidang ini tidak jitu, kerugiannya jauh lebih parah daripada kehilangan hasil kerja selama dua tahun, seperti dialami Einstein. Jadi, apa sebenarnya ”intuisi” itu? Bagaimana cara kerjanya? Seberapa jauh ia dapat diandalkan?

Seorang gadis belasan tahun, yang dikutip dalam buku The Intuitive Edge, oleh Philip Goldberg, menjawab pertanyaan itu dengan mengatakan, ”Intuisi adalah apabila Anda mengetahui sesuatu, kecuali hal-hal seperti, dari mana datangnya?” Intuisi secara lebih formal didefinisikan sebagai ”pengetahuan yang datang kepada seseorang tanpa proses mengingat atau menalar secara sadar”. Intuisi tampaknya melibatkan sejenis lompatan—mulai dari melihat suatu persoalan langsung mengetahui pemecahannya. Tiba-tiba, kita langsung mengetahui jawaban atau memahami suatu situasi. Namun, itu tidak berarti bahwa intuisi sama dengan suatu dorongan atau nafsu.

”Sewaktu saya melihatnya, saya langsung tahu bahwa saya harus memilikinya.” Contoh pernyataan ini tidak menyatakan intuisi melainkan nafsu. Intuisi tampaknya mirip dengan nafsu dalam hal ia kelihatannya datang kepada kita tanpa penalaran tahap demi tahap secara teratur. Tetapi asal mulanya benar-benar sangat kurang emosional dan kurang misterius daripada nafsu yang sering kali timbul dari hati kita yang ’licik’.—Yeremia 17:9.

Kelihatannya, intuisi juga bukan indera keenam yang misterius. Sebagaimana dikatakan oleh World Book Encyclopedia, ”Beberapa orang secara keliru menyebut intuisi sebagai ’indera keenam’. Namun penyelidikan biasanya menyingkapkan bahwa intuisi didasarkan atas pengalaman, khususnya pengalaman orang-orang yang memiliki kepekaan yang besar.” Orang demikian membangun ”suatu gudang ingatan dan kesan,” kata Encyclopedia tersebut, dan berdasarkan itu otak dapat membuat ”kesan seketika [yang disebut] intuisi, atau ’praduga’”.

Maka sebaliknya daripada sifat yang misterius atau magis, intuisi tampaknya merupakan hasil yang wajar sewaktu seseorang menguasai suatu keahlian. Sebagaimana dinyatakan baru-baru ini oleh majalah Psychology Today, ”Para peneliti telah mendapati bahwa orang-orang yang intuitif memiliki satu sifat penting: Mereka merupakan ahli dalam . . . bidang pengetahuan [tertentu]. Dan mereka dengan mudah mengeluarkan pengetahuan mereka yang luas untuk menyelesaikan problem-problem dalam bidang mereka. Sebenarnya, orang-orang tampaknya lebih intuitif tepatnya karena—dan dalam batas-batas tertentu—mereka memiliki suatu keahlian.” Namun mengapa keahlian dapat melahirkan intuisi?

Michael Prietula, asisten profesor administrasi industri, mengemukakan teori bahwa seraya orang-orang mendapatkan lebih banyak pengetahuan di suatu bidang, ”terdapat perubahan besar dalam cara mereka berpikir dan menalar”. Otak mengorganisasi informasi ke dalam kelompok-kelompok, atau potongan-potongan besar. Pola besar informasi ini kadang-kadang memungkinkan otak untuk melangkahi tahap-tahap pemikiran yang lebih lamban, melelahkan dan analitis, dan melompat menuju kesimpulan-kesimpulan berdasarkan intuisi, atau praduga. Menurut Prietula, praduga berkembang seraya otak menghubungkan lebih banyak dari pola-pola besar ini.

Pertimbangkan contoh sehari-hari dari buku Brain Function: ”Perhatikan seorang tukang kunci yang sedang bekerja seraya ia dengan penuh perasaan menggunakan seutas kawat bengkok sederhana yang dimasukkan ke dalam lobang kunci yang rumit dan kemudian membukanya, seolah-olah dibimbing oleh intuisi yang misterius.” Intuisi tukang kunci kelihatan amat misterius bagi seorang pengamat; namun sebenarnya, itu muncul dari pengalaman bertahun-tahun. Kita semua menggunakan jenis intuisi demikian. Sewaktu Anda mengendarai sepeda, Anda tidak secara sadar berkata kepada diri Anda sendiri misalnya, ’Saya rasa sebaiknya saya membelokkan roda depan sedikit ke kanan, kalau tidak, saya akan kehilangan keseimbangan.’ Tidak, otak membuat keputusan itu secara intuisi, berdasarkan pengetahuan yang Anda dapatkan dari pengalaman.

Sama halnya, intuisi Einstein dalam fisika muncul bukan entah dari mana. Ia memiliki perbendaharaan keahlian yang amat besar untuk dimanfaatkan. Akan tetapi, keahlian di dalam satu bidang tidak dapat menghasilkan intuisi dalam bidang lainnya. Intuisi Einstein tidak akan membantunya untuk memecahkan masalah memperbaiki pipa air.

Dalam pikiran banyak orang, kata-kata ”wanita” dan ”intuisi” seiring-sejalan. Benarkah wanita lebih intuitif daripada pria? Dan bila memang demikian, bagaimana proses memperoleh keahlian dapat menjelaskan fenomena ini?

Pertimbangkan sebuah contoh yang umum. Seorang bayi menangis. Ibu yang berpengalaman, sibuk di ruangan lain, mengambil popok dan bukannya menyiapkan makanan bagi sang bayi. Mengapa? Ia telah melatih kepekaan intuisinya sehubungan dengan tangis anaknya. Ia mengetahui jenis tangisan mana yang menyatakan kebutuhan yang ini dan jenis-jenis tangisan mana yang lebih besar kemungkinannya timbul pada waktu-waktu tertentu. Dalam beberapa detik saja, dan tanpa penalaran sadarnya, sang ibu dapat membaca kebutuhan anaknya dan bertindak dengan tepat. Apakah suatu indera keenam yang misterius sedang bekerja? Bukan, intuisinya didasarkan pada keahliannya sebagai seorang ibu, suatu manfaat yang diperoleh dengan upaya keras melalui pengalaman. Seorang ibu yang masih baru atau seorang pengasuh anak boleh jadi pada mulanya merasa bingung dalam situasi serupa.

Namun, anggapan tentang intuisi wanita tidak terbatas pada urusan seorang ibu. Banyak orang telah mengamati bahwa kaum wanita sering kali tampak sanggup menilai hal-hal yang halus dalam berbagai situasi yang melibatkan orang-orang dan kepribadian lebih cepat dan lebih intuitif daripada kaum pria. Para ilmuwan tidak dapat memastikan mengapa ada perbedaan antara pria dan wanita dalam hal ini.

Berdasarkan penelitiannya sehubungan dengan masalah ini, psikolog bernama Weston Agor dari Universitas Texas, El Paso, menyimpulkan bahwa meskipun, pada umumnya, wanita lebih intuitif daripada pria, perbedaan ini lebih berpangkal pada kebudayaan daripada psikologi. Para ahli lainnya juga telah menyimpulkan bahwa peran tradisional kaum wanita melatih mereka untuk menjadi penilai karakter yang ulung. Seperti dinyatakan oleh antropolog Margaret Mead, ”Karena pelatihan seumur hidup yang mereka dapatkan dalam bidang hubungan manusiawi—sebab itulah sebenarnya intuisi wanita—kaum wanita dapat memberikan sumbangan istimewa kepada setiap usaha kelompok.”

Meskipun intuisi wanita memang merupakan hal yang spekulatif, para ahli semakin setuju bahwa intuisi merupakan alat yang sangat bermanfaat bagi pria maupun wanita. Dalam bukunya The Process of Education, psikolog bernama Jerome Bruner mengatakan, ”Pujian hangat yang para ilmuwan curahkan kepada rekan mereka yang memperoleh label ’intuitif’ merupakan bukti utama bahwa intuisi merupakan komoditi yang berharga dalam ilmu pengetahuan dan sesuatu yang perlu kita upayakan untuk dibina dalam diri siswa-siswa kita.”

Namun, bukan hanya siswa-siswa ilmu pengetahuan yang menghargai kemampuan intuisi ini dan ingin memupuknya. Pertanyaannya adalah, Dapatkah intuisi dipelajari? Memang beberapa orang benar-benar memiliki lebih banyak karunia intuisi daripada orang-orang lain. Namun, karena intuisi memang tampak begitu erat hubungannya dengan proses mendapatkan keahlian, beberapa ahli merasa bahwa kita dapat memperbesar kemampuan intuisi yang kita bawa sejak lahir dengan menaruh lebih banyak perhatian terhadap cara kita belajar.

Sebagai contoh, sewaktu membaca, jangan sekadar menyerap banyak fakta. Ajukan pertanyaan-pertanyaan. Perjelas hal-hal yang Anda tidak mengerti. Upayakan untuk meringkaskan pokok-pokok utama dan mengantisipasi kesimpulan-kesimpulan. Sebaliknya daripada menyerap begitu banyak rincian, carilah kategori dan pola yang luas, prinsip-prinsip yang lebih mendasar. Sebagaimana dikemukakan profesor psikologi bernama Robert Glaser, ”kesanggupan untuk merasakan pola-pola umum yang penting” merupakan akar intuisi.

Tentu saja, tidak setiap intuisi dapat dibenarkan. Misalnya, bagaimana jika pengetahuan yang menjadi dasar intuisi tersebut sudah keliru sejak semula? Pemikiran yang menghasilkan sikap serius ini hendaknya mendorong kita untuk menguji secara hati-hati kesaksamaan bahan yang kita pelajari. Hampir 2.000 tahun yang lalu, Alkitab dengan bijaksana justru berkata demikian. Filipi 1: 10 (NW) menyatakannya sebagai berikut, ”Pastikanlah hal-hal yang lebih penting.”—Lihat juga Kisah 17:11.

Kelemahan intuisi lainnya adalah bahwa ia dapat diwarnai oleh emosi kita. Itulah sebabnya mengapa berbahaya untuk bergantung sepenuhnya kepada intuisi sewaktu membuat keputusan yang penting atau sewaktu menganalisis orang-orang. ”Bila Anda menyimpan emosi tertentu dalam suatu hal, intuisi Anda mungkin kurang bisa diandalkan kecuali Anda dapat menempatkan perasaan Anda pada sudut yang benar,” kata psikolog Evelyn Vaughan mengingatkan. Kemarahan, ketakutan, iri hati dan kebencian—perasaan-perasaan yang kuat demikian, meskipun bukan merupakan intuisi, dapat memberi pengaruh dan bahkan dapat meracuni intuisi kita. Sebagai contoh, ada dua orang yang telah lama saling membenci. Sewaktu timbul kesalahpahaman baru, masing-masing secara intuisi langsung mengetahui bahwa lawannya memiliki motif buruk. Maka, secara bijaksana Alkitab memperingatkan kita agar tidak menghakimi berdasarkan ’yang tampak di hadapan kita’.—2 Korintus 10:7.

Emosi lainnya, keangkuhan, dapat membuat kita terlalu mementingkan intuisi kita, seolah-olah intuisi kita memiliki nilai-nilai khusus dibandingkan dengan pertimbangan dan pendapat orang-orang lain. Kita mungkin membuat keputusan dalam sekejap tanpa berkonsultasi dengan orang-orang yang akan dipengaruhi. Atau, keangkuhan mungkin membuat kita berkeras mengikuti keputusan-keputusan intuisi meskipun orang-orang lain sakit hati atau telah memberikan nasihat yang telah dipertimbangkan masak-masak. Sekali lagi, Alkitab memberi beberapa nasihat yang bijak, ”Kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri.”—Galatia 6:3.

Akhirnya, terlalu banyak bersandar pada intuisi dapat menyebabkan kemalasan mental. Tidak ada jalan pintas untuk mendapatkan pengetahuan, pengertian dan hikmat; belajar secara teratur adalah satu-satunya cara. Maka, sebaliknya daripada mengandalkan gagasan intuitif pertama yang muncul, orang yang bijaksana membangun sebuah waduk pengetahuan, yang selanjutnya menjadi sumber pengertian, pemahaman—dan sering kali sumber intuisi itu sendiri.

Sebenarnya, intuisi merupakan nilai yang sejati apabila ia selaras dengan pikiran terhebat di alam semesta—pikiran sang Pencipta. Ia merupakan sumber pengetahuan yang saksama dan hikmat sejati, serta Ia ingin agar kita mempelajari pengetahuan yang penting ini. Melalui Alkitab, Ia dengan ramah membiarkan kita menyerap pikiran, perasaan dan tindakan-Nya. Seraya kita menggunakan pengetahuan demikian dalam kehidupan kita sehari-hari, ”daya pengamatan” kita, termasuk intuisi, menjadi ”terlatih”.—Ibrani 5:14, NW.

Jadi, perolehlah keahlian dalam bidang pengetahuan tentang Pencipta dan Putra-Nya. (Yohanes 17:3) Anda tidak akan menemukan sesuatu hal lain yang lebih berharga daripada upaya Anda tersebut. Tidak ada sumber lain yang lebih baik untuk mendapatkan intuisi.

[Blurb di hlm. 22]

Einstein menganggap intuisi sangat penting

[Blurb di hlm. 23]

Intuisi bukanlah indera keenam yang misterius

[Blurb di hlm. 23]

Benarkah wanita lebih intuitif daripada pria?

[Blurb di hlm. 25]

Intuisi tidak dapat diandalkan apabila didasarkan atas pengetahuan yang keliru

[Gambar di hlm. 24]

Dengan intuisi, seorang ibu mengenali kebutuhan bayinya sewaktu sang bayi menangis

    Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2026)
    Log Out
    Log In
    • Indonesia
    • Bagikan
    • Pengaturan
    • Copyright © 2026 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
    • Syarat Penggunaan
    • Kebijakan Privasi
    • Pengaturan Privasi
    • JW.ORG
    • Log In
    Bagikan