PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • g85_No12 hlm. 14-15
  • Musuh Anda yang Paling Jahat—Apakah Musuh Itu Anda Sendiri?

Tidak ada video untuk bagian ini.

Maaf, terjadi error saat ingin menampilkan video.

  • Musuh Anda yang Paling Jahat—Apakah Musuh Itu Anda Sendiri?
  • Sedarlah!—1985 (No. 12)
Sedarlah!—1985 (No. 12)
g85_No12 hlm. 14-15

Musuh Anda yang Paling Jahat—Apakah Musuh Itu Anda Sendiri?

PARA tetangga menyebut Peter”orang baik . . . yang senang sekali berolahraga, berlari dan bermain tenis.” Baru berumur 33 tahun, Peter sudah dapat membanggakan gengsi dalam pekerjaannya yang terhormat dan sebagai atlit amatir. Tetapi pada suatu pagi ia mencekik mati ayahnya. Apa sebab? Menurut surat kabar Daily News, Peter berteriak, ”Iblis yang membuat saya melakukan hal ini!”

Tetapi, sering kali penjahat-penjahat yang memberi alasan, ”Iblis yang membuat saya melakukan hal ini,” cepat-cepat dibawa kepada ahli jiwa untuk diperiksa. Dan di lingkungan masyarakat tertentu, jika seseorang menyatakan percaya akan adanya Iblis, kewarasan orang tersebut sudah diragukan. ’Suatu bayangan yang berlarian ke sana ke mari, menganjurkan untuk membunuh dan menganiaya orang? Menggelikan!’ kata orang. Mungkin pendapat yang lebih disukai adalah tafsiran bahwa Iblis hanya suatu lambang dari kejahatan yang ada dalam diri manusia.

Memang dalam diri manusia yang tidak sempurna terdapat sifat jahat. ”Manusia, [justru] yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya,” demikian kata Alkitab. (Kejadian 8:21) Namun, penyelidikan selama puluhan tahun oleh para ahli jiwa untuk menemukan ’Iblis di dalam diri manusia’ hanya menimbulkan teori-teori yang bertentangan, yang sering kali menjadi rumit karena pendirian yang tidak tetap dan kesulitan-kesulitan lainnya. (Lihat kotak.)

Misalnya, ada orang-orang yang menganggap bahwa kekejaman manusia disebabkan oleh warisan proses evolusi dari binatang. Dalam bukunya The Anatomy of Human Destructiveness, Erich Fromm membantah bahwa, berlawanan dengan pendapat yang populer, kekejaman bukanlah satu-satunya reaksi binatang terhadap bahaya yang mengancam: ”Dorongan untuk melarikan diri . . . mempunyai peranan yang sama kalaupun tidak lebih besar dalam kelakuan binatang dari pada dorongan untuk berkelahi.” Maka, seandainya pun seseorang menerima teori evolusi yang serba sulit itu, kebenaran dari konsep yang mengatakan bahwa manusia adalah binatang yang pada dasarnya kejam tetap diragukan. Namun, jika manusia sendiri bukan musuhnya yang paling jahat, siapakah musuh itu?

[Kotak di halaman 14]

Mencari ’Iblis Dalam Diri Manusia’

Sudah banyak usaha dibuat untuk membuktikan bahwa manusia sendirilah yang merupakan sumber kejahatan. Sigmund Freud, seorang ahli analisa jiwa, berpendapat bahwa manusia didorong oleh naluri hidup-mati yang sangat kuat. Tetapi, Carl Jung, bekas teman sekerja Freud, melihat ”Iblis” di halaman diri manusia sebagai suatu ”bayangan” atau kepribadian binatang yang muncul ketika manusia berusaha menekan sifatnya yang jahat. Konrad Lorenz mengatakan bahwa sifat suka menyerang adalah pembawaan lahir, sisa dari proses evolusi di waktu lampau. Banyak ahli biologi yang merasa bahwa penyebab dari kebengisan manusia adalah ketidaknormalan dalam keturunan atau ketidaknormalan secara organik. Lebih rumit lagi gambarannya, sebab ada pula yang berpendapat bahwa ”Iblis” di dalam diri manusia ini disebabkan oleh cara dan lingkungan di mana kita dibesarkan—dan bukan disebabkan oleh sifat dasar kita. Dengan kata lain, ahli-ahli paham perilaku berpendapat bahwa unsur-unsur lingkungan, seperti keluarga dan teman-teman, itulah yang mengakibatkan kejahatan.

    Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2026)
    Log Out
    Log In
    • Indonesia
    • Bagikan
    • Pengaturan
    • Copyright © 2026 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
    • Syarat Penggunaan
    • Kebijakan Privasi
    • Pengaturan Privasi
    • JW.ORG
    • Log In
    Bagikan